Sampuraga, Legenda Anak Durhaka dari Mandailing

Nizar Aldi - detikSumut
Kamis, 05 Mei 2022 09:40 WIB
Tugu atau Pelaminan Sampuraga di Mandailing Natal.
Tugu atau Pelaminan Sampuraga di Mandailing Natal. (Foto: Istimewa/madina.go.id)
Madina -

Sampuraga merupakan cerita rakyat yang turun-temurun diwariskan di kalangan masyarakat. Warisan cerita itu menjadi legenda di masyarakat Sumatera Utara (Sumut) khususnya yang tinggal di Mandailing.

Legenda Sampuraga merupakan kisah seorang anak durhaka yang tidak mengakui ibu kandungnya setelah dia sukses. Kisahnya berawal saat Sampuraga hidup di Padang Bolak atau yang saat ini dikenal dengan nama Padang Lawas Utara. Dia tinggal bersama ibunya yang telah berstatus sebagai janda. Suatu hari, Sampura meminta izin kepada ibunya untuk merantau ke daerah Mandailing.

Setelah merantau, Sampuragapun berhasil dan dia hidup berkecukupan. Dia pun mau menikah dengan saudagar kaya raya di daerah Mandailing. Ketika pesta pernikahan dilangsungkan, sang ibu datang untuk melihat sang anak.


Namun, sesampainya di Mandailing, Sampuraga tidak mengakui sang ibu dan malah mengusir sang ibu. Si ibu menangis dan memohon kepada Sang Pencipta. Ibu itu berdoa agar anaknya diberikan pelajaran oleh Tuhan.

Sesaat kemudian terjadi gempa yang disebut suhul oleh masyarakat sekitar. Selain gempa turun juga hujan yang tak berkesudahan. Beberapa hari setelah reda, penduduk desa menemukan onggokan tanah dan batu kapur yang dari bawahnya muncul air panas.

Saat ini, air panas tersebut berbentuk waduk dan diberi warga nama Sampuraga. Sampuraga merupakan objek wisata kolam air panas yang terletak di Desa Sirambas, Kecamatan Panyabungan Barat, Mandailing Natal, Sumut. Selain kolam air panas, ada juga sungai yang mengalir di sekitar lokasi untuk mandi.

Menurut dr. Erond L. Damanik, dosen Antropologi Unimed kisah legenda tersebut memiliki makna yang mendalam.

"Sebenarnya kisah memberikan makna supaya setiap anak jangan pernah merasa malu kepada ibunya, bagaimana pun kondisinya dia tetap ibu yang harus kita hargai," kata Erond kepada detikSumut.

Lebih lanjut Erond mengatakan kalau kisah yang hampir mirip dengan Sampuraga banyak tersebar di setiap daerah dengan nama yang berbeda-beda, namun mempunyai makna yang sama tentang bagaimana sikap anak kepada ibunya.

"Kisah seperti ini banyak, seperti Malin Kundang di Sumbar, batu yang di pinggir laut itu diyakini sebagai bentuk wujud Malin Kundang, ada juga di Simalungun dan di Toba," kata Erond.

Kisah-kisah seperti ini menurutnya merupakan cara masyarakat kita untuk menumbuhkan etika khususnya kepada orang tua. Diwariskan kepada anak-anak untuk tidak pernah durhaka atau malu kepada ibunya.

"Ini merupakan cara masyarakat untuk memberikan nasehat kepada anaknya," tutupnya.



Simak Video "Penampakan Semburan Sumur SMGP di Mandailing Natal"
[Gambas:Video 20detik]
(bpa/bpa)