Tiga investor disebut melirik blok minyak dan gas (Migas) di tiga lokasi di Aceh. Potensi migas Tanah Rencong masih sangat menjanjikan dan mulai kembali dipercaya investor.
Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Nasri Djalal, mengatakan pihaknya telah membuat tiga pengajuan surat keberminatan untuk mengelola migas di tahun 2026. Ketiganya merupakan wilayah kerja (WK) terminasi yang kini kembali dilirik investor.
"Ini menunjukkan potensi migas Aceh masih sangat menjanjikan dan mulai kembali dipercaya oleh investor, baik dari dalam maupun luar negeri," kata Nasri dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026).
Masuknya tiga perusahaan disebut menghadirkan kombinasi kekuatan global dan lokal. Untuk Wilayah Andaman III, yang sebelumnya dikelola Repsol, kini diminati konsorsium Jepang yang terdiri dari Japex dan Jogmec.
Sementara Wilayah Lhokseumawe (eks Zaratex) menarik perhatian kolaborasi antara PT Energi Hijau Biru dan Barakah Petroleum yang akan melakukan joint study.
"Joint study ini menjadi langkah awal yang sangat penting sebelum masuk ke tahap kontrak kerja sama. Kita lihat keseriusan investor untuk mengkaji potensi yang ada," jelas Nasri.
Adapun WK South Block A (eks KRX) diajukan oleh PT Pembangunan Aceh (PEMA) untuk menjadi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) baru. Keterlibatan PEMA dinilai menjadi hal positif karena menunjukkan peran daerah dalam mengelola sumber daya alamnya semakin kuat.
Simak Video "Laju IHSG ditopang Sektor Energi "
(astj/astj)