Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melepas ekspor perdana arang batok kelapa dari Batam, Kepulauan Riau (Kepri) ke China. Nilai ekspor produk tersebut diperkirakan mendekati Rp 200 miliar per tahun.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Frits Novianto Suhendar, mengatakan ekspor perdana ini menjadi langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan UMKM daerah sekaligus memperkuat hilirisasi komoditas kelapa nasional.
"Program ekspor ini merupakan hasil kolaborasi Kadin Indonesia bersama Kadin Kabupaten Indragiri Hilir, Kadin Batam, dan Kadin Kepulauan Riau (Kepri). Ekspor ini mampu menggerakkan UMKM di daerah," kata Frits di Batam, Selasa (9/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Frits menjelaskan dalam kontrak ekspor tersebut, total volume mencapai sekitar 36 ribu ton per tahun. Jika dikalkulasikan, kebutuhan ekspor setara dengan sekitar 125 kontainer per bulan, atau 10-20 kontainer per minggu, tergantung kesiapan produksi.
"Kontrak payungnya langsung satu tahun. Nilai ekspornya diperkirakan mendekati Rp200 miliar per tahun," jelasnya.
Produk arang batok kelapa ini diekspor ke Tianjin, China, sebagai tahap awal kerja sama. Ke depan, ekspor akan diperluas ke komoditas turunan kelapa lainnya, seperti serabut kelapa.
"Next, dari China kami juga akan menerima dukungan transfer teknologi. Mereka akan mengirimkan alat-alat untuk mempercepat proses produksi. Jadi bukan hanya ekspor barang, tapi juga ada hilirisasi teknologi," ujarnya
Frits menerangkan program ekspor ini melibatkan puluhan UMKM yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Indragiri Hilir, dengan basis produksi kelompok-kelompok usaha rumahan. Selain UMKM, kegiatan ini juga berdampak luas pada sektor pendukung seperti perusahaan pelayaran, forwarder, pelabuhan, hingga tenaga kerja bongkar muat (TKBM).
"Efek dominonya besar. Tidak hanya UMKM, tapi seluruh rantai logistik ikut bergerak," ujarnya.
Untuk sementara, Batam menjadi pelabuhan ekspor utama karena wilayah Riau belum memiliki fasilitas ekspor langsung. Namun, Kadin Kepri menyambut baik rencana pengembangan komoditas kelapa di wilayah Kepulauan Riau agar ke depan bisa langsung terlibat sebagai daerah sumber bahan baku.
"Batam saat ini menjadi titik transit ekspor karena paling dekat dan fasilitasnya siap. Ke depan, potensi kelapa di Kepri juga akan kita kolaborasikan," ujarnya.
(dhm/dhm)











































