Komoditi karet dan produk turunannya mengalami kenaikan nilai ekspor pada November 2023. Tercatat, komoditi ini mendapatkan nilai ekspor sebesar Rp 1,05 triliun.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, nilai ekspor karet dan turunannya per November 2023 sebesar US$ 67,8 juta. Nilai ini naik sebesar US$ 6,39 juta atau senilai Rp Rp 99,8 miliar.
"Golongan barang yang mengalami kenaikan nilai ekspor terbesar yaitu karet dan barang dari karet sebesar US$6,39 juta atau Rp 99,8 miliar," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Nurul Hasanudin, Kamis (18/1/2024).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nilai ekspor karet ini mengalami pertumbuhan sebesar 10,4% apabila dibandingkan Oktober 2023 sebesar US$ 61,4 juta atau senilai Rp 959,2 miliar.
Sementara itu, apabila dilihat berdasarkan data dari Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, pengapalan ekspor karet pada November 2023 ada sebanyak 25.886 ton, naik 14,35 persen dibandingkan pada bulan sebelumnya.
Namun begitu, Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah menyebutkan bahwa secara rata-rata ekspor karet ternyata terus lesu sejak tahun 2017 lalu.
"Penurunan ekspor terus berlangsung sejak tahun 2017. Pada 2017 masih tercatat 512.725 ton dan terus menurun hingga tahun 2022 menjadi 350.147 ton, berlanjut menurun pada 2023 menjadi 313.402 ton atau menurun 10,49% dibandingkan 2022," ujar Edy.
Ia pun menyebutkan bahwa terjadi penurunan ekspor ke China dan Amerika Serikan lantaran terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kedua negara maju tersebut. Tak hanya itu, kurangnya pasokan bahan baku masih menjadi momok penurunan ekspor karet asal Sumut.
"Dari dalam negeri faktor utama adalah semakin kurangnya pasokan bahan baku akibat semakin masifnya konversi kebun karet ke kebun sawit dan adanya gangguan penyakit gugur daun," kata Edy.
Berdasarkan keterangan Edy, kekurangan pasokan bahan baku ini juga berdampak terhadap pabrik karet yang tutup sejak tahun 2017. Tercatat hingga saat ini sudah ada tujuh pabrik yang setop beroperasi.
"Kekurangan pasokan bahan baku berdampak pada tutupnya beberapa pabrik, sejak 2017 hingga sekarang ada 7 pabrik stop beroperasi. Hingga saat ini kapasitas terpasang pabrik pengolahan karet di Sumatera utara tercatat 970 ribu ton, sedangkan total produksi pada 2023 sebesar 355.729 ton. Dari total produksi ini, hanya sekitar 38% saja yang sumber bahan bakunya dari Sumatera Utara, selebihnya dari luar provinsi ini," kata Edy.
Sepanjang tahun 2023, ada 43 negara tujuan ekspor karet dari Sumatera Utara, lima posisi teratas adalah Jepang 32,01%, Amerika Serikat 17,03%, Brazil 7,23%, China 6,21%; dan Turki 6,14%.
Harga rata-rata SICOM-TSR20 tahun 2023 juga mengalami penurunan 11,06% dari tahun 2022 menjadi 137,72 sen AS per kg.
Perkembangan harga di awal Januari 2024 menunjukkan kenaikan dengan harga rata-rata sampai 15 Januari sebesar 152,11 sen.
"Produksi bahan baku karet pada Januari ini diperkirakan masih terganggu di mana di berbagai sentra produksi sudah mengalami gugur daun," ucap Edy.
(afb/afb)