Warga Sergai Sulap Rumput Purun Khas Banjar Jadi Barang Berharga

Kartika Sari - detikSumut
Minggu, 26 Jun 2022 16:49 WIB
Pendiri Nasti Purun Rosmina Nasution saat mengisi pameran UMKM di Serdang Bedagai.
Pendiri Nasti Purun Rosmina Nasution saat mengisi pameran UMKM di Serdang Bedagai (Kartika Sari/detikSumut)
Medan -

Rumput purun ternyata tak hanya ditemukan di Kalimantan Tengah saja. Ternyata di Desa Cinta Air, Kecamatan Perbaungan, Serdang Bedagai rumput jenis ini juga banyak ditemukan.

Menariknya, rumput purun yang tumbuh di rawa-rawa juga bisa dikreasikan untuk pembuatan tas, keranjang, kotak tisu, bakul, dan lainnya. Diantaranya ada Rosmina Nasution, pendiri kerajinan Nasti Purun yang aktif memperkenalkan kerajinan purun ke masyarakat luas.

"Dulu itu rumput purun hanya dibuat jadi tikar saja. Kemudian kita coba lah inovasi yang dari cuma tikar jadi dompet dan tas yang banyak disukai banyak orang," ungkap Nasti, Minggu (26/6/2022).


Memiliki serat yang kuat, olahan rumput purun ini ternyata dapat awet menahun walaupun terkena hujan maupun panas terik. Hal ini ternyata membuat warga Desa perlahan mulai beralih untuk menggunakan produk berbahan purun untuk keperluan rumah tangga.

"Penduduk desa di sini udah ganti dari yang bahan plastik ke kerajinan purun. Itu kayak tempat nasi (besek). Nah kalau tempat makanan seperti ini kita pakai purun yang ori dan tidak kita kasih pewarna," tuturnya.

Diceritakan Rosmina, kerajinan purun ini sudah ada sejak zaman nenek moyang yang merupakan masyarakat suku Banjar yang suka menganyam tikar dari purun. Dijelaskannya, rumput purun ini diambil di wilayah sekitar rumah, dibersihkan dan dijemur yang kemudian digunakan untuk menganyam.

Diakui Rosmina, pembuatan kerajinan tas jauh lebih hemat waktu dan punya nilai ekonomis tinggi dibanding tikar.

"Kalau buat tikar ini kadang satu hari tidak siap, tapi saya bisa satu hari ini buat tiga tas, jadi lebih hemat bahan dan juga lebih menguntungkan dari tikar," jelasnya.

Adapun untuk harga tikar purun diberi harga Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per lembar. Sedangkan untuk pembuatan tas belanja per buah dijual seharga Rp 35 ribu untuk satu buah.

Kemudian, untuk dompet kecil dipatok mulai dari harga Rp 5000 hingga Rp 15 ribu per buah.

"Keuntungannya bisa lebih dari 75 persen buat tas dan lebih kekinian yang diminati banyak orang," sebut Rosmina.

Dalam segi pemasaran, produk Nasti Purun sudah terjual hampir di seluruh wilayah di Sumatera Utara dengan dapat meraup penghasilan hingga jutaan rupiah.

Inovasi yang dibuat Rosmina ini tak ingin dia lakukan sendirian. Berbekal kemampuan membuat aneka macam kerajinan, ia membentuk kelompok pengrajin dari ibu-ibu setempat yang dia latih di rumahnya.

Kini, Desa Cinta Air mendapat julukan desa penganyam purun dengan berbagai kerajinan tangan yang bernilai ekonomis.



Simak Video "30 Tahun 'Terdampar' di Sumut, Kakek Ini Akhirnya Bisa Pulang ke Jatim"
[Gambas:Video 20detik]
(afb/afb)