Mengulik Sejarah Sarung dan Peci yang Jadi Identitas Khas Santri

Mengulik Sejarah Sarung dan Peci yang Jadi Identitas Khas Santri

Indah Fitrah Yani - detikSumut
Kamis, 22 Okt 2026 12:40 WIB
Ilustrasi sambutan Hari Santri Nasional 2026. (Gemini AI)
Foto: Ilustrasi sambutan Hari Santri Nasional 2026. (Gemini AI)
Medan -

Sarung dan peci sudah lama melekat dalam kehidupan santri di Indonesia. Keduanya kerap terlihat saat santri mengikuti pengajian, beribadah, hingga menghadiri berbagai kegiatan keagamaan.

Pemandangan ini membuat sarung dan peci seolah menjadi simbol yang tidak terpisahkan dari identitas seorang santri. Namun, di balik kesederhanaan busana tersebut, terdapat perjalanan sejarah dan tradisi yang menarik untuk ditelusuri.

Sarung telah digunakan di berbagai wilayah Nusantara jauh sebelum menjadi bagian dari citra santri, sementara peci berkembang menjadi penutup kepala yang lekat dengan kehidupan masyarakat muslim Indonesia. Keduanya memiliki latar belakang budaya yang berbeda, tetapi sama-sama mendapat tempat penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, mengapa santri identik dengan sarung dan peci? Untuk diketahui, sarung dan peci bukan sekadar pakaian sehari-hari, melainkan ada sejarah dan makna di balik pakaian tersebut. Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

ADVERTISEMENT

Sarung dan Peci Jadi Simbol Perlawanan

Dikutip detikHikmah dari penjelasan Direktorat Penerangan Agama Islam Kemenag RI dalam unggahan di akun Instagram resminya @penais.kemenag, sarung berasal dari Yaman yang di negara tersebut dikenal dengan nama "futah". Di negara lain, sarung dikenal dengan nama berbeda, seperti "izaar" di Arab Saudi, dan "wizaar" di Oman. Sarung masuk ke Indonesia pertama kali pada abad ke-14, dibawa oleh para saudagar yang berasal dari Arab dan Gujarat.

Dalam perkembangannya, sarung identik dengan kebudayaan Islam. Di era penjajahan Belanda, sarung menjadi simbol perlawanan terhadap budaya Barat. Hingga saat ini, sarung menjadi simbol kehormatan dan kesopanan yang digunakan dalam berbagai macam ucapara yang sakral.

Dalam tulisan yang dimuat di NU Online Jawa Timur berjudul Sarung dan Peci, Simbol Perlawanan Santri terhadap Penjajah, dijelaskan bahwa pakaian menjadi salah satu penanda identitas sekaligus sarana perlawanan terhadap dominasi kolonial.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, penggunaan jas dan celana bergaya Eropa semakin didorong dalam kehidupan masyarakat. Di tengah situasi tersebut, para kiai dan santri tetap mempertahankan pakaian yang telah menjadi bagian dari tradisi mereka, termasuk sarung dan peci. Pilihan berpakaian ini kemudian dimaknai sebagai bentuk penegasan identitas dan penolakan terhadap dominasi budaya kolonial.

Sikap tersebut memperlihatkan bahwa perlawanan tidak selalu diwujudkan melalui pertempuran fisik. Mempertahankan tradisi dan kebudayaan sendiri juga dapat menjadi cara untuk menjaga jati diri bangsa di tengah tekanan kekuasaan asing.

Salah satu contoh yang disoroti dalam tulisan tersebut adalah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-2 pada 1927. Tradisi bersarung yang dikenakan para ulama dan pemimpin pesantren menjadi bagian dari identitas yang dibawa dalam ruang sosial dan organisasi. Dengan demikian, pakaian sederhana yang dikenakan santri memiliki makna lebih luas daripada sekadar kebutuhan sehari-hari.

Makna Sarung sebagai Simbol Fleksibilitas Santri

Dalam artikel Kementerian Agama berjudul Sarung dan Simbol Fleksibilitas Santri, Imam Safei yang saat menulis artikel tersebut menjabat sebagai Kepala Biro pada Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, menjelaskan bahwa sarung dapat dimaknai sebagai simbol fleksibilitas dalam kehidupan santri.

Ia menerangkan, bentuk sarung yang sederhana dan tidak dilengkapi kancing atau resleting membuat sarung mudah digunakan dalam berbagai situasi. Karakter ini dapat menjadi pengingat agar santri memiliki sikap yang luwes dalam menghadapi persoalan dan berinteraksi dengan masyarakat.

Makna tersebut, menurut Imam Safei, sejalan dengan kehidupan pesantren yang mengajarkan santri untuk tidak bersikap kaku dalam menghadapi perbedaan. Santri diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa kehilangan prinsip dan nilai agama yang dipelajarinya.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa sarung mencerminkan kesederhanaan. Santri tidak harus mengenakan pakaian mahal untuk menunjukkan kehormatan atau kedudukannya. Justru, kesederhanaan menjadi bagian dari keseharian yang mengajarkan bahwa proses menuntut ilmu dan pembentukan akhlak lebih penting daripada penampilan luar.

Sarung juga memiliki fungsi praktis dalam kehidupan pesantren. Pakaian ini dapat dikenakan ketika mengaji, salat, maupun menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Karena itu, Imam Safei menyimpulkan, sarung bukan hanya simbol identitas, melainkan bagian dari tradisi yang tumbuh dan bertahan dalam kehidupan santri dari generasi ke generasi.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video Suasana Rumah Duka Pentolan Bonek Andie Peci di Madiun"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads