Kisah Kartika, Perempuan di Medan dengan Kondisi Langka MRKH

Kisah Kartika, Perempuan di Medan dengan Kondisi Langka MRKH

Hafizna Irasa Hasibuan - detikSumut
Jumat, 09 Okt 2026 01:01 WIB
Perempuan di Medan dengan Kondisi Langka MRKH, Kartika
Perempuan di Medan dengan Kondisi Langka MRKH, Kartika (Foto: Dok. Istimewa)
Medan -

Tidak pernah terlintas di benak Kartika bahwa dirinya hidup dengan kondisi medis yang langka. Diagnosis Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) Syndrome yang diterimanya justru membuatnya bertanya pada diri sendiri hingga masa depan rumah tangganya.

Kartika pertama kali mengetahui kondisi itu pada 2017, sekitar dua bulan setelah menikah. Saat itu, ia merasa diagnosis yang didapatnya mengubah gambaran kehidupan yang selama ini telah dibayangkan.

"Yang paling berubah waktu itu bukan hanya pandangan saya terhadap tubuh saya, tetapi cara saya mengenali diri saya sendiri. Sebelum diagnosis itu, saya masih memiliki harapan dan gambaran tentang kehidupan saya ke depan. Kemudian tiba-tiba saya mendapatkan diagnosis yang bahkan tidak pernah terpikirkan," kata Kartika, (Kamis 08/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia sempat mempertanyakan bagaimana dirinya akan menjalani kehidupan setelah mengetahui kondisi itu. Termasuk bagaimana menghadapi orang lain dan mempertanyakan identitasnya sebagai perempuan.

Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser atau MRKH merupakan kelainan kongenital langka pada perempuan. Dalam penelitian Jurnal Kesehatan 2026, kondisi itu ditandai dengan tidak terbentuk atau tidak berkembangnya rahim dan bagian atas vagina.

ADVERTISEMENT

Penelitian Irpan Wahid Karyanto dan sejumlah peneliti dari Universitas Syiah Kuala itu menjelaskan, perempuan dengan MRKH umumnya memiliki fungsi ovarium dan perkembangan karakter seksual sekunder yang normal. Kondisi itu biasanya baru diketahui ketika remaja karena mengalami amenore primer atau belum mengalami menstruasi.

MRKH diperkirakan terjadi pada sekitar 1 dari 4.500 hingga 5.000 perempuan yang lahir hidup. Data epidemiologi di Asia, termasuk Indonesia, masih terbatas dan penelitian itu menyebut kemungkinan adanya kasus yang belum terdiagnosis.

Secara medis, MRKH berkaitan dengan terganggunya perkembangan duktus Müllerian pada masa embrio. Struktur itu normalnya berperan dalam pembentukan sejumlah organ reproduksi internal perempuan. Pada MRKH, proses perkembangan itu terganggu sehingga terjadi agenesis atau hipoplasia pada organ reproduksi tertentu.

Selain persoalan anatomi dan reproduksi, penelitian itu juga mencatat bahwa MRKH dapat memberikan dampak psikologis dan sosial. Pasien dapat menghadapi kecemasan, depresi, persoalan kepercayaan diri, hingga tantangan dalam hubungan interpersonal dan fungsi seksual.

Salah satu hal yang paling sulit diterima Kartika adalah kenyataan bahwa dirinya tidak dapat hamil dan memiliki keturunan secara biologis. Baginya, kondisi itu sempat terasa seperti kehilangan salah satu bagian dari masa depan yang selama ini dibayangkan.

"Dulu saya sangat sulit menerima kenyataan bahwa saya mandul, dalam arti saya tidak bisa hamil dan tidak bisa memberikan keturunan secara biologis. Bagi saya waktu itu, seperti kehilangan salah satu bagian dari masa depan yang selama ini saya bayangkan," tuturnya.

Kondisi itu juga membuat Kartika dan suaminya menghadapi masa sulit dalam rumah tangga. Keduanya sempat mengalami keterpurukan dan tidak mengetahui bagaimana pernikahan mereka akan berjalan setelah diagnosis tersebut diketahui.

Kartika bahkan pernah meminta suaminya untuk bercerai. Bukan karena sudah tidak mencintai suami, melainkan karena ia merasa kondisi yang dialaminya akan menjadi beban bagi pasangan. Namun, sang suami memilih untuk tetap mempertahankan pernikahan mereka.

Perjalanan Kartika bersama suaminya juga tidak hanya berkaitan dengan persoalan memiliki keturunan. Ia mengalami kesulitan dalam menjalani hubungan intim karena kondisi anatomi yang dialaminya.

Sebelum kembali mendapatkan penanganan medis, Kartika sempat mencoba pengobatan tradisional. Ia mengaku pernah menjalani tindakan di bagian perut tanpa bius dan tanpa jahitan dalam kondisi sadar.

Pengalaman itu kemudian membuatnya semakin yakin untuk mencari penanganan medis yang tepat. Pada 2019, Kartika menjalani vaginoplasty secara medis.

Penelitian mengenai MRKH menjelaskan bahwa penanganan kondisi itu dapat dilakukan melalui pendekatan multidisipliner. Salah satunya adalah dilatasi vagina secara bertahap sebagai pilihan nonbedah, sementara vaginoplasti dapat menjadi pilihan ketika terapi nonbedah tidak berhasil atau sesuai dengan kondisi pasien. Dukungan psikologis dan konseling juga dinilai penting dalam penanganan MRKH.

Setelah melalui proses pemulihan dan terapi yang diperlukan, Kartika mengatakan kehidupan intim bersama suaminya menjadi jauh lebih baik.

Hampir 9 tahun menjalani kehidupan dengan kondisi tersebut membuat cara pandang Kartika ikut berubah. Ia yang dahulu kesulitan menerima keadaan kini mengaku telah menerima kondisi dirinya sepenuhnya.

Dukungan suami dan keluarga menjadi bagian penting dalam proses penerimaan tersebut. Kartika merasa kehangatan yang diberikan orang-orang terdekat membuatnya memahami bahwa menjadi perempuan dan menjadi bagian dari keluarga tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan melahirkan atau memiliki keturunan.

Penelitian tentang MRKH juga menekankan pentingnya dukungan psikologis, konseling, dan kelompok dukungan bagi perempuan dengan kondisi tersebut. Pendekatan yang tidak hanya berfokus pada kondisi fisik dinilai penting karena MRKH dapat memengaruhi aspek emosional, psikoseksual, dan sosial pasien.

Keputusan Kartika untuk berbicara mengenai MRKH berawal dari kelelahan menyimpan cerita sendiri, terutama ketika harus menghadapi pertanyaan mengenai kehamilan.

Ia kemudian menyadari bahwa keterbukaan mengenai pengalamannya dapat membantu perempuan lain yang mengalami kondisi serupa. Terlebih, ketika pertama kali mengetahui MRKH, Kartika mengaku sempat merasa sendirian dan bingung karena minimnya informasi.

Saat ini, Kartika memiliki grup Telegram untuk perempuan dengan MRKH. Ia ingin grup tersebut menjadi ruang yang aman bagi mereka untuk bertanya, bercerita, dan berbagi pengalaman tanpa merasa malu maupun takut dihakimi.

Kartika juga ingin terus memberikan edukasi mengenai MRKH serta berbicara tentang penerimaan diri dan kepercayaan diri perempuan.

Baginya, perjuangan tersebut bukan hanya tentang menceritakan pengalaman pribadi, tetapi juga memastikan perempuan dengan kondisi serupa tidak merasa sendirian dalam menjalani kehidupannya.

"Saya ingin perempuan dengan MRKH tahu bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya rahim, kemampuan untuk hamil, atau kemampuan memenuhi standar tertentu tentang bagaimana seorang perempuan seharusnya hidup," ujarnya.

Kartika berharap perempuan dengan MRKH tetap berani mencintai dirinya, menerima kasih sayang, menjalin hubungan, berkarya, bermimpi, dan membangun kehidupan yang mereka inginkan.

"Kalian tidak sendirian. Kalian bukan perempuan yang berbeda atau kurang, kalian tetap berharga dan istimewa dengan perjalanan masing-masing," tegas Kartika.

Artikel ini ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, peserta Program Maganghub di detikcom.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads