Bagi pecinta makanan pedas, seblak, ayam gemprek, mi level atau makanan dengan sambal melimpah akan sulit ditolak. Padahal setelah makan pedas, tidak jarang perut mulai terasa mulas, panas, bahkan muncul keinginan untuk segera buang air besar.
Rasa pedas pada cabai berasal dari senyawa bernama capsaicin atau senyawa kimia yang ditemukan dalam cabai, khususnya di bagian biji yang memberikan sensasi pedas atau panas. Senyawa inilah yang menimbulkan sensasi terbakar ketika cabai atau makanan pedas dikonsumsi.
Ternyata, capsaicin tidak hanya bereaksi di mulut, tetapi juga dapat mempengaruhi konmsumsi. Dirangkum dari penelitian yang diterbitkan dalam Trends in Food Science & Technology, capsaicin dapat memberikan berbagai efek pada saluran pencernaan, tergantung jumlah yang dikonsumsi dan kondisi tubuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada komsumsi tinggi, senyawa ini dapat berkaitan dengan rasa tidak nyaman seperti panas, nyeri hingga diare. Hal ini berkaitan dengan reseptor bernama TRPV1 (Transient Receptor Potential Vanilloid 1), yaitu bagian dari sistem saraf yang mendeteksi sensasi panas dan nyeri.
Ketika capsaicin dari cabai mengaktifkan reseptor ini, tubuh dapat merespons dengan sensasi terbakar atau tidak nyaman, termasuk di saluran pencernaan. Respons tubuh terhadap capsaicin inilah yang membuat sebagian orang langsung merasa mulas setelah makan pedas.
Pada orang yang sensitif, makanan pedas dapat memicu aktivitas saluran pencernaan sehingga muncul dorongan untuk buang air besar, bahkan diare. Namun, reaksi setiap orang tidak selalu sama. Ada yang bisa makan sambal banyak tanpa keluhan, sementara yang lain baru makan sedikit sudah merasa perutnya panas atau tidak nyaman.
Jumlah makanan pedas dan kondisi pencernaan juga dapat mempengaruhi reaksi tersebut. Penelitian tahun 2025 yang menganalisis 11 studi dengan 21.220 peserta menemukan bahwa konsumsi makanan pedas berkaitan dengan peningkatan risiko functional dyspepsia sebesar 32 persen. Makanan pedas juga berkaitan dengan lebih tingginya risiko nyeri dan rasa terbakar di ulu hati.
Meski begitu, bukan berarti makanan pedas pasti menyebabkan gangguan pencernaan. Penelitian tersebut menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa cabai menjadi satu-satunya penyebab. Karena itu, makanan pedas masih bisa dikonsumsi selama tubuh dapat menerimanya dan tidak menimbulkan keluhan berulang.
Jadi, kalau perut mulai "protes" setiap kali makan pedas, mungkin sudah waktunya mengurangi level sambal. Pedasnya boleh nagih, tetapi jangan sampai lidah minta tambah sementara perut minta menyerah.
Artikel ditulis Devi Silaban, mahasiswi PKL di detikcom
Simak Video "Sambal Bajak, 'Teman' Menu Andalan"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
