Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut perang dengan Iran bisa berakhir setelah Pemilu Sela yang digelar November 2026 mendatang. Menurutnya, Iran tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.
"Saya tidak tahu apakah mereka (Iran) akan mampu bertahan. Namun, masalah ini akan selesai setelah pemilu. Atau mungkin lebih cepat," kata Trump dalam wawancara via telepon dengan media NewsNation, seperti dilansir detikNews dari Middle East Monitor, Jumat (11/9/2026).
Sehari sebelumnya, atau pada Rabu (9/9), Trump menyatakan bahwa perang melawan Iran akan "berakhir segera" setelah pemilu sela digelar.
"Saya rasa perang akan berakhir segera setelah pemilu karena mereka tidak bisa bertahan lebih lama lagi," ujarnya saat berbicara kepada wartawan sebelum bertolak ke Dallas, Texas.
Pernyataan Trump itu bertolak belakang dengan laporan Wall Street Journal (WSJ) yang menyebutkan bahwa para penasihat senior Gedung Putih secara pribadi telah memperingatkan bahwa perang tersebut bisa terus berlanjut hingga sisa masa jabatan Trump.
Perang melawan Iran, yang dimulai pada akhir Februari lalu, telah memasuki bulan ketujuh dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Sedikitnya 18 personel militer AS tewas akibat serangan pembalasan Iran di kawasan Timur Tengah.
Perang yang tak kunjung berakhir itu memicu kekhawatiran terkait sumber daya militer dan gangguan pada pasar energi global.
Menurut American Automobile Association (AAA), harga bensin di AS rata-rata mencapai US$ 4,22 per galon pada Rabu (9/9). Angka tersebut tercatat naik dari harga US$ 4,01 sebulan sebelumnya, dan harga US$ 3,19 setahun lalu.
Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk mencapai penyelesaian cepat, sembari tetap mendukung kampanye ekonomi yang lebih luas terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menggambarkan strategi tersebut, yang dijuluki "Operation Economic Outcast", sebagai alternatif bagi operasi tempur berskala besar.
Simak Video "Video Terpopuler Sepekan: AS-Iran Perang Lagi, Piala Dunia Terakhir Ronaldo"
(astj/astj)