Menkes: Kematian akibat Stroke Tertinggi tapi Biaya BPJS Nomor 4

Kepulauan Riau

Menkes: Kematian akibat Stroke Tertinggi tapi Biaya BPJS Nomor 4

Alamudin Hamapu - detikSumut
Jumat, 28 Agu 2026 19:31 WIB
Keterangan foto: - Menkes)Budi Gunadi Sadikin saat memberikan sambutan dalam 30th Annual Scientific Meeting of Indonesian Neurosurgical Society di Swiss-Belhotel Harbour Bay, Batam (Alamudin Hamapu/detikSumut)
Menkes Budi Gunadi Sadikin saat memberikan sambutan dalam 30th Annual Scientific Meeting of Indonesian Neurosurgical Society di Swiss-Belhotel Harbour Bay, Batam (Alamudin Hamapu/detikSumut)
Batam -

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyoroti pembiayaan penanganan stroke melalui BPJS Kesehatan. Budi menyebut stroke menjadi penyebab kematian tertinggi, tetapi biaya yang dikeluarkan BPJS untuk penyakit tersebut justru berada di urutan keempat.

Menurut Budi, kondisi tersebut menjadi sesuatu yang janggal. Dia menduga salah satu penyebabnya karena banyak pasien stroke meninggal sebelum sempat mendapatkan penanganan di rumah sakit.

"Stroke meninggal paling tinggi. Tapi biayanya nomor 4. Buat saya ini aneh. Harusnya kalau meninggalnya paling tinggi, biayanya paling tinggi juga," kata Budi saat menghadiri Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-30 Perhimpunan Bedah Saraf Indonesia di Batam, Jumat (28/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini terjadi karena stroke itu meninggalnya cepat. Belum sempat masuk rumah sakit, sudah meninggal," sambungnya.

Budi mengatakan kondisi tersebut juga terlihat dari rendahnya tindakan trombektomi pada pasien stroke jika dibandingkan dengan tindakan PCI untuk penyakit jantung.

ADVERTISEMENT

"Kenapa PCI tindakannya tinggi sekali, tapi kalau trombektomi tindakannya rendah sekali," ujarnya.

Dia menilai persoalan tersebut bukan semata-mata karena dokter atau pasien stroke tidak ingin menjalani tindakan medis. Menurutnya, struktur pembiayaan dan tarif layanan juga perlu dievaluasi agar tindakan penanganan stroke dapat lebih mudah diakses.

Budi mengaku telah beberapa kali berdiskusi dengan pihak terkait, termasuk BPJS Kesehatan, untuk mendorong penyesuaian tarif layanan stroke.

"Harusnya belanja BPJS stroke lebih tinggi dari itu. Jadi tarifnya mungkin mesti kita lihat, kita pindahin ke trombektomi atau STEMI bypass," Ujarnya.

Budi menegaskan penanganan stroke tidak cukup hanya dilakukan ketika pasien sudah mengalami kondisi berat. Menurut dia, pemerintah harus memperkuat upaya pencegahan dan deteksi dini.

"Kalau stroke itu nggak bakal beres-beres kalau diberesinnya di ujung mahal. Dan itu menderita masyarakatnya," ujar Budi.

Dia mengatakan strategi yang lebih baik adalah mencegah stroke sejak faktor risikonya mulai muncul.

"Jadi kalau saya sukanya stroke itu diberesinnya di depan," ujarnya.

Salah satu caranya, lanjut Budi, melalui program pemeriksaan kesehatan gratis. Pemeriksaan tersebut diarahkan untuk mendeteksi sejumlah faktor risiko penyakit kardiovaskular.

"Programnya promosi. Cek kesehatan gratis. Tekanan darah, gula darah, lemak darah, kolesterol sama BMI," tutur Budi.

Dia menilai pemeriksaan kadar gula darah juga penting untuk mengetahui risiko seseorang terkena stroke maupun serangan jantung.

Budi menyebut pemeriksaan HbA1c dapat digunakan untuk melihat rata-rata kadar gula darah dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, kadar HbA1c di atas 6,5 persen menunjukkan risiko kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius.

"Kalau dia di atas 6,5, kemungkinan kena stroke sama serangan jantungnya tinggi," katanya.

Budi mengatakan pemerintah terus memperluas cakupan program pemeriksaan kesehatan gratis. Dia menyebut jumlah masyarakat yang telah mengikuti program tersebut sekitar 70 juta orang dan ditargetkan meningkat menjadi sekitar 130 juta orang tahun ini.

Target tersebut diharapkan kembali meningkat menjadi sekitar 200 juta orang pada tahun berikutnya hingga mencakup hampir seluruh masyarakat Indonesia.

Menurut Budi, pemeriksaan secara luas akan membuat faktor risiko penyakit kardiovaskular dapat diketahui lebih awal sehingga masyarakat yang memiliki risiko tinggi bisa segera mendapatkan intervensi.

"Jadi kalau saya sukanya stroke itu diberesinnya di depan. Nah, dengan cara apa? Dengan cara programnya Pak. Pramodis, sekali lagi, promosi.
Cek, kesehatan gratis. Empat aja yang dicek. Tekanan darah, gula darah, lemak darah, cholesterol sama BMI," ujarnya.

Budi mengutip berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa deteksi dan pengendalian faktor risiko secara luas dapat menekan kematian akibat penyakit kardiovaskular, termasuk stroke dan penyakit jantung.

"Kalau kita bisa deteksi 80 persen dari populasi, kondisi darahnya, 80 persen itu bisa mulai diobati, dan 80 persen terkendali, maka kematian karena kardiovaskular, termasuk stroke sama jantung, bisa turun di bawah 50 persen," ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, Budi optimistis angka kematian akibat stroke yang saat ini disebut mencapai sekitar 350 ribu orang per tahun dapat ditekan secara signifikan.

"Jadi stroke yang 350 (ribu), itu bisa turun di bawah 170 ribu," ujarnya.



(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads