318 Rumah Rusak Akibat Cuaca Ekstrem di Medan

318 Rumah Rusak Akibat Cuaca Ekstrem di Medan

Rechtin Hani Ritonga - detikSumut
Senin, 24 Agu 2026 17:21 WIB
Teks foto: Kondisi rumah warga yang terdampak angin puting beliung. (Foto: Finta Rahyuni/detikSumut)
Kondisi rumah warga yang terdampak angin puting beliung. (Foto: Finta Rahyuni/detikSumut)
Medan -

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan mencatat sebanyak 318 rumah rusak akibat cuaca ekstrem di Kota Medan.

Kepala BPBD Medan, Yunita Sari mengatakan, bencana berupa angin kencang ini melanda Kota Medan pada Selasa (18/8/2026) dan Sabtu (22/8/2026).

"Update hari ini kan ada 2 kejadian, ya, di hari Selasa malam Rabu. Itu yang terbesar. Itu yang terdampak 9 kecamatan, 18 kelurahan, 281 rumah rusak ringan, kemudian 22 rusak sedang, ada 13 rusak berat, dan ada 3 fasilitas umum yang terkena yakni gereja, masjid, dan sekolah. Itu untuk yang di hari Selasa," ujar Yunita saat diwawancarai detikSumut, Senin (24/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk bencana pada Sabtu (22/8), Yunita mengatakan, angin kencang melanda Kecamatan Medan Tuntungan dan Medan Johor dengan total 13 rumah rusak.

"Nah, kemudian kemarin kan ada angin kencang lagi. Itu di Kuala Bekala, ada terdampak 2 rumah, ada korban anak perempuan 10 tahun, kepalanya dijahit 10 jahitan, dan kemudian di Medan Tuntungan terdampak 11 rumah. Jadi untuk yang kemarin kalau nggak salah itu 13 rumah terdampak," katanya.

ADVERTISEMENT

Sehingga total rumah rusak di Medan mencapai 318 unit. Yunita menambahkan, BPBD Medan menyalurkan bantuan berupa material bahan bangunan untuk rumah yang rusak. Sementara tenda pengungsi, kata dia, didirikan di Kecamatan Medan Johor.

"Bantuan yang dari BPBD ada material, seperti seng, kayu, broti, kemudian triplek, ada selimut, ada tikar palembang, ada tikar biasa, ada terpal untuk yang di Johor. Nah, kemudian kita bantu juga sembako," ungkapnya.

Terkait jumlah pengungsi, Yunita tidak merincinya. Menurutnya, banyak warga terdampak yang mengambil makanan siap saji di tenda posko dan memakannya di rumah.

"Pengungsi waktu yang di hari Selasa itu, kami kan dirikan tenda, tenda pengungsi dan 2 tenda posko. Eh, masyarakat lebih cenderungnya ambil nasi di tenda posko, pulang ke rumah, takut barang-barangnya hilang. Jadi nggak seberapa lah yang ada menginap di tenda," pungkasnya.



(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads