Teh merupakan salah satu minuman yang banyak dikonsumsi setiap hari, baik sebagai pendamping sarapan maupun teman untuk bersantai. Namun, muncul pertanyaan apakah kebiasaan minum teh setiap hari aman bagi kesehatan ginjal?
Bagi kebanyakan orang dewasa, minum teh setiap pagi umumnya baik untuk ginjal, terutama kalau teh tersebut tidak manis dan merupakan bagian dari asupan cairan harian. Berikut penjelasannya.
Teh Membantu Menjaga Hidrasi
Sebagian besar teh terdiri dari air. Dikutip detikHealth dari laman Verywell Health, secangkir teh di pagi hari dihitung sebagai asupan cairan harian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut penting sebab ginjal membutuhkan cukup cairan untuk menyaring limbah dari darah dan menghasilkan urine.
Mungkin ada kekhawatiran kalau teh bakal bikin dehidrasi karena kandungan kafeinnya. Meski kafein memang merupakan diuretik ringan, artinya meningkatkan produksi urine, volume cairan dalam teh biasanya mengimbangi efek tersebut.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Nutrition pada 2017 menemukan, kadar kafein yang umum tak mengganggu keseimbangan cairan pada orang dewasa yang sedang beristirahat.
Dikutip dari laman US Food and Drug Administration (FDA), kandungan kafein dalam teh lebih rendah daripada kopi seduh. Berikut perbandingan kandungan kafein dalam miligram (mg) per porsi 12 ons (340 g):
- Teh hitam: 71 mg
- Teh hijau: 37 mg
- Teh oolong: 8-25 mg
- Kopi seduh: 113-247 mg
Bagi kebanyakan orang, peningkatan frekuensi buang air kecil karena teh tak berbahaya, bahkan mungkin bermanfaat. Sebab, aliran urine yang teratur membantu mengencerkan mineral yang dapat membentuk kristal di saluran kemih.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menyatakan, minum cukup cairan adalah langkah terpenting untuk mencegah batu ginjal.
Teh Bisa Meningkatkan Fungsi Ginjal
Bagi orang dengan fungsi ginjal normal, tidak ada bukti bahwa minum teh dalam jumlah sedang dapat membahayakan ginjal. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa minum teh bisa meningkatkan fungsi ginjal dan mengurangi risiko penyakit ginjal kronis hingga 20 persen, meski penyebab pasti dari efek ini belum diketahui.
Perlu diingat, berhati-hati dengan tambahan gula yang dapat merusak kesehatan ginjal serta meningkatkan risiko diabetes, tekanan darah tinggi, serta penambahan berat badan. Bagi kebanyakan orang, pilihan terbaik yang ramah untuk ginjal adalah teh yang diseduh dengan sedikit atau tanpa gula, bersama dengan cukup air sepanjang hari.
Teh Hitam dan Risiko Batu Ginjal
Walau peningkatan asupan cairan bisa mencegah batu ginjal, senyawa alami dalam teh hitam yang disebut oksalat berpotensi meningkatkan risikonya.
Oksalat secara alami ditemukan dalam makanan dan minuman tertentu, seperti teh hitam, bayam, kacang-kacangan, dan cokelat. Pada sebagian orang, terlalu banyak oksalat dapat mengikat kalsium dalam urine dan membantu membentuk batu kalsium oksalat, jenis batu ginjal yang paling umum.
Meskipun begitu, penelitian masih saling bertentangan mengenai apakah teh hitam benar-benar meningkatkan risiko batu ginjal.
Sebuah studi pada November 2021 yang melibatkan 430 orang dewasa meneliti hubungan antara konsumsi teh dan kopi dengan batu oksalat. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi teh yang tinggi, atau empat gelas atau lebih per hari, dikaitkan dengan peningkatan risiko batu ginjal kalsium oksalat dibandingkan dengan individu yang minum kurang dari dua gelas per hari.
Tinjauan lainnya yang dilakukan pada 2024 dan melibatkan lebih dari satu juta peserta menyimpulkan bahwa konsumsi teh secara teratur menurunkan risiko batu ginjal sebesar 20 persen. Peningkatan asupan cairan dapat membantu menurunkan konsentrasi mineral dalam urine dan risiko pembentukan kristal.
Berdasarkan sudut pandang praktis, penelitian menunjukkan bahwa satu atau dua cangkir teh menimbulkan sedikit risiko atau tidak sama sekali. Kendati demikian, bagi pengidap batu ginjal berulang, sebaiknya hindari konsumsi teh hitam pekat secara berlebihan.
