Rencana Trump Pungut Biaya 20% di Selat Hormuz Batal

Internasional

Rencana Trump Pungut Biaya 20% di Selat Hormuz Batal

Tim detikNews - detikSumut
Rabu, 15 Jul 2026 20:29 WIB
U.S. President Donald Trump reacts as he speaks to the media on the day of a NATO leaders summit in Ankara, Turkey, July 8, 2026. REUTERS/Umit Bektas
Donald Trump (Foto: REUTERS/Umit Bektas)
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana penerapan biaya 20% terhadap seluruh pengiriman kargo yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai gantinya, ia memilih mendorong tercapainya kesepakatan perdagangan dan investasi dalam skala besar bersama negara-negara di kawasan Teluk.

Dilansir detikNews dari BBC, Rabu (15/7/2026), keputusan tersebut diambil setelah ketegangan terbaru antara AS dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia. Konflik itu juga sempat menghambat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

"Saya telah memutuskan untuk mengganti Biaya Penggantian Amerika Serikat sebesar 20% dengan Kesepakatan Perdagangan dan Investasi yang akan dilakukan berbagai Negara Teluk ke Amerika Serikat," ujar Trump melalui akun media sosial pribadinya, Truth Social.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Investasi tersebut akan sangat besar, tetapi pada saat yang sama, sangat baik bagi mereka dan masa depan mereka," lanjut Trump tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Trump juga menyatakan jalur strategis Selat Hormuz kini telah kembali dibuka bagi seluruh kapal, kecuali milik Iran. Menurutnya, arus distribusi minyak telah kembali normal berkat kekuatan militer AS.

ADVERTISEMENT

"Minyak kembali mengalir seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, berkat kekuatan militer Amerika Serikat yang luar biasa". tambahnya.

Menanggapi pernyataan tersebut, Iran menegaskan tetap akan mempertahankan pengaruhnya di Selat Hormuz.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menilai kebijakan blokade sepihak yang diumumkan Trump justru berdampak pada kesepakatan yang telah tercapai sebelumnya.

"Keputusan blokade Trump secara tidak langsung telah membongkar kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya," katanya kepada Kantor Berita AFP.



(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads