Gelombang Panas Ekstrem Buat Angka Kematian di Prancis Melonjak

Internasional

Gelombang Panas Ekstrem Buat Angka Kematian di Prancis Melonjak

Isal Mawardi - detikSumut
Sabtu, 04 Jul 2026 14:31 WIB
Prancis dilanda gelombang panas terparah yang pernah terjadi. (Reuters: Gonzalo Fuentes)
Foto: Ilustrasi. Prancis dilanda gelombang panas terparah yang pernah terjadi. (Reuters: Gonzalo Fuentes)
Jakarta -

Gelombang panas ekstrem sedang melanda Prancis. Kondisi itu membuat angka kematian di negeri Menara Eiffel itu melonjak hingga 30%.

Dilansir detikNews dari AFP, Jumat (3/7/2026), menurut badan kesehatan masyarakat Prancis (Public Health France), jumlah kematian di wilayah Paris meningkat sekitar 62 persen selama periode yang sama.

Para ilmuwan menyatakan perubahan iklim akibat ulah manusia "jelas" menjadi penyebab Eropa dilanda intensitas gelombang panas pada akhir Juni.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut layanan cuaca Meteo-France, Prancis mencatat suhu terpanas terjadi pada Juni lalu sejak tahun 1947. Gelombang panas terjadi mulai tanggal 17 hingga 30 Juni.

Pada periode itu suhu melonjak hingga di atas 40 derajat Celsius, di lebih dari 40 persen wilayah negara itu.

ADVERTISEMENT

Akibat dugaan kurangnya kesiapan menghadapi suhu ekstrem tersebut, membuat Pemerintahan Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menghadapi mosi tidak percaya di parlemen. Suhu ekstrem juga memaksa penutupan sekolah dan pembatalan perjalanan kereta api.

Mengingat setidaknya satu dari tiga rumah di Prancis memiliki isolasi yang buruk atau tidak memadai untuk menghadapi gelombang panas, warga yang tidak memiliki penutup jendela (blind) berupaya menutupi jendela mereka dengan selimut darurat atau cat berbahan dasar kapur guna mendinginkan suhu di dalam rumah yang terasa sangat panas.

Otoritas kesehatan Prancis menyatakan sejak 22 Juni-saat suhu mencapai puncaknya, terdapat setidaknya "peningkatan sebesar 29,1 persen, yang setara dengan 2.025 kematian tambahan.

Badan kesehatan masyarakat Prancis mencatat adanya "peningkatan nyata" dalam angka kematian di kalangan penduduk berusia 45 hingga 64 tahun. Namun, badan tersebut menambahkan "kelompok usia 65 tahun ke atas mencakup proporsi terbesar dari angka kematian tersebut."

Baca selengkapnya di sini




(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads