Prancis mendorong pemerintah memberlakukan larangan sementara konsumsi alkohol di ruang publik di Paris selama gelombang panas ekstrem melanda. Kebijakan tersebut diterapkan bertujuan untuk melindungi warga dan wisatawan dari risiko dehidrasi serta serangan panas (heatstroke).
Dilansir detikTravel, saat ini suhu di Prancis tembus lebih dari 40 derajat Celsius.
Selain larangan sementara di ruang publik, Pemerintah Prancis juga membatasi penjualan alkohol untuk dibawa pulang pada malam hari. Hal itu merupakan upaya mengurangi beban rumah sakit dan layanan darurat yang terus menangani lonjakan kasus akibat cuaca panas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepolisian Paris, Patrice Faure, mengumumkan bahwa konsumsi alkohol di tempat umum dilarang mulai pukul 12.00 siang hingga pukul 07.00 pada akhir pekan. Kebijakan penjualan alkohol untuk dibawa pulang juga dilarang mulai pukul 18.00 hingga pukul 07.00.
Namun, hal itu itu tidak berlaku bagi alkohol yang dikonsumsi di dalam bar, kafe, restoran, maupun area teras.
Pihak berwenang menyatakan pembatasan kebijakan itu diterapkan bertujuan untuk mengurangi risiko dehidrasi dan serangan panas, karena konsumsi alkohol dapat memperburuk dampak suhu ekstrem terhadap kesehatan.
Selain itu, langkah tersebut harapannya dapat mengurangi tekanan terhadap rumah sakit dan layanan medis darurat yang saat ini mengalami lonjakan pasien. Menurut Patrice Faure, rumah sakit di Paris dan wilayah sekitarnya saat ini mulai kewalahan menghadapi situasi tersebut.
"Rumah sakit di Paris dan wilayah sekitarnya sedang kewalahan," ujar Faure dikutip dari Guardian, Sabtu (27/6/2026).
Pemerintah juga telah mengaktifkan rencana darurat kesehatan nasional (Orsan) tingkat tinggi. Sehingga memungkinkan rumah sakit untuk menambah tenaga medis, memperkuat koordinasi sistem kesehatan, dan menunda tindakan medis yang tidak bersifat mendesak.
Artikel ini telah tayang di detikTravel, baca selengkapnya di sini
(mjy/mjy)
