Gejala Kanker Usus Kerap Disangka Maag, Kenali Ciri-cirinya

Gejala Kanker Usus Kerap Disangka Maag, Kenali Ciri-cirinya

Sarah Oktaviani Alam - detikSumut
Sabtu, 27 Jun 2026 08:01 WIB
woman with colorectal cancer concept on the pink backgorund
Foto: Istock
Jakarta -

Nyeri ulu hati, perut kembung sering dianggap sebagai naiknya asam lambung atau maag. Ternyata tanda-tanda tersebut juga bisa menjadi gejala penyakit yang lebih serius seperti kanker usus.

Akibat sering disepelekan, banyak pasien yang baru datang ke rumah sakit ketika penyakitnya sudah memasuki stadium lanjut. "Pada sebagian besar penyakit serius, masalah utamanya bukanlah gejala itu sendiri tetapi bagaimana orang menafsirkannya," tegas seorang ahli, dikutip dari detikHealth dari Malay Mail.

Dr Nurhashim Haron, seorang konsultan bedah umum dan kolorektal di Rumah Sakit Spesialis Tawakkal Kuala Lumpur, Malaysia, mengungkapkan fakta mengejutkan. Sekitar 40 hingga 50 persen pasien kanker kolorektal yang dirujuk kepadanya awalnya mengira mereka hanya mengida maag atau gastritis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pasien baru datang untuk pemeriksaan lebih lanjut setelah gejalanya menetap. Akibatnya, ketika akhirnya didiagnosis, lebih dari 70 persen sudah berada pada stadium lanjut, stadium tiga atau empat," katanya.

Berdasarkan data Registri Kanker Nasional Malaysia (2017-2021), terjadi tren peningkatan kasus yang signifikan pada kelompok usia yang lebih muda.

ADVERTISEMENT

"Sebelumnya, sebagian besar pasien berusia antara 55 dan 65 tahun. Sekarang, kami melihat kasus pada usia 40-an, bahkan lebih muda," jelas Dr Nurhashim.

Ia menceritakan salah satu kasus pria usia 40-an yang awalnya mengira hanya mengalami perut kembung biasa. Pemeriksaan endoskopi awal memang hanya menunjukkan peradangan lambung.

Namun saat dilakukan kolonoskopi, barulah ditemukan tumor di usus besar yang ternyata sudah masuk stadium lanjut dan menyebar, hingga pasien harus menjalani operasi pengangkatan sebagian usus dan lambung serta kemoterapi.

Waspadai 'Tanda Bahaya' pada Pola BAB

Dr Nurhashim mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan perubahan kebiasaan buang air besar (BAB). Beberapa gejala krusial yang wajib diwaspadai meliputi:

  • Perubahan frekuensi BAB.
  • Bentuk feses menjadi lebih tipis.
  • Perubahan konsistensi feses.
  • Adanya darah atau lendir pada feses.
  • Diare berkepanjangan atau sembelit kronis.
  • Perasaan BAB tidak tuntas (tenesmus).

"Namun, banyak pasien masih menganggap gejala-gejala ini disebabkan oleh gastritis, stres, atau diet dan memilih untuk menunggu sampai kondisinya memburuk," sesalnya.

Faktor rasa malu dan takut menjalani prosedur seperti kolonoskopi juga memperlambat pasien mencari pertolongan medis.

Padahal, jika terdeteksi sejak dini, penanganan kanker kolorektal jauh lebih mudah dan murah. Bahkan pada beberapa kasus awal, pasien hanya perlu menjalani operasi tanpa harus melewati proses kemoterapi yang kompleks.

Konsultan bedah umum dan hepatobilier di Bukit Tinggi Medical Centre, Klang, Dr Thamarai Velan, menyebut penyakit batu empedu juga kerap memicu gejala yang mirip dengan gastritis.

"Banyak pasien datang mengeluhkan rasa panas di dada, gangguan pencernaan, dan ketidaknyamanan perut, yang mereka anggap sebagai gastritis. Namun, menurut pengalaman saya, lebih dari setengah kasus tersebut disebabkan oleh kondisi lain," terangnya.

Bedanya, nyeri akibat batu empedu biasanya terasa lebih tajam, terlokalisasi di sisi kanan perut, menjalar ke punggung, serta disertai mual, muntah, hingga mata atau kulit menguning. Jika dibiarkan tanpa penanganan, batu empedu bisa memicu infeksi parah (sepsis) hingga meningkatkan risiko kanker kandung empedu.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Konsumsi Yogurt Dapat Turunkan Risiko Kanker Usus"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads