Mendagri Muhammad Tito Karnavian menyebutkan, kondisi Aceh dan dua provinsi lain di Sumatera sudah mulai normal pasca bencana akhir November 2025. Namun saat ini masih banyak persoalan yang belum selesai.
"Terlepas dari kita sudah bisa mengembalikan kepada fungsi yang normal kehidupan masyarakat, tapi kan masih banyak persoalan yang belum diselesaikan," kata Tito kepada wartawan di Kantor Gubernur Aceh, Selasa (9/6/2026).
Tito hadir di Aceh untuk mengikuti rapat koordinasi dan evaluasi capaian penanganan serta percepatan pemulihan pascabencana Hidrometeorologi yang dipimpin Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem). Rapat itu dihadiri Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah Dek Fadh, sejumlah wali kota dan bupati serta beberapa perwakilan kementerian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, berbagai persoalan yang belum selesai di antaranya masalah perumahan, pendidikan, rumah ibadah, madrasah, jalan, jembatan, sawah, tambak, dan lain-lain. Proses perbaikan, rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan tahun ini hingga 2028 mendatang.
"Total anggaran yang sudah disetujui oleh Pak Presiden dan DPR itu adalah untuk tiga provinsi ini selama tiga tahun Rp100,1 triliun, dibagi menjadi tiga tahapan, Rp39 triliun, Rp 32 triliun, dan Rp 28 triliun lebih. Nah di samping itu, di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, Rp10,6 triliun tambahan TKD (Transfer Keuangan Daerah)," ujar Tito.
Tito menjelaskan, kementerian dan lembaga tahun ini memiliki anggaran Rp 39 triliun untuk rehabilitasi dan rekonstruksi tiga provinsi terdampak bencana. Mereka diminta segera mengeksekusi program bila anggarannya sudah dicairkan Kementerian Keuangan.
"Begitu nanti sudah dicairkan dari Kementerian Keuangan, maka otomatis kita akan segera bekerja cepat untuk mengeksekusi program-program dan kegiatan yang jumlahnya 11.512 kegiatan untuk tiga provinsi. Termasuk otomatis Aceh, karena Aceh berdampak yang paling berat," jelas mantan Kapolri itu.
Tito mengungkapkan kondisi Aceh saat ini sudah normal fungsional. Normal yang dimaksud adalah pergerakan orang dan barang berjalan baik, listrik juga bagus, SPBU berjalan operasional, internet kembali aktif, logistik juga tidak kekurangan.
"Tadi kita melakukan evaluasi apa yang sudah dicapai selama masa tanggap darurat dan transisi. Intinya, kita sudah kembali kepada normal, tapi belum permanen. Normalnya normal fungsional," katanya.
"Namun sekali lagi, ada yang belum ideal. Misalnya sekolah, ada yang masih di tenda beberapa, ada yang masih darurat, ada yang menumpang di sekolah lain, meskipun sebagian besar sudah kembali ke sekolah asal," lanjut Tito.
(agse/afb)
