Akhir-akhir ini cuaca terasa tidak menentu kadang terasa panas terik namun tiba-tiba turun hujan lebat diikuti angin kencang. Padahal sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa musim kemarau 2026 memang akan datang lebih cepat.
Berdasarkan prediksi cuaca BMKG, sejumlah wilayah di Indonesia mengalami musim kemarau lebih dulu sejak bulan April dan Mei 2026, sedangkan sekitar 23,3 persen wilayah musim di Indonesia diprediksi mulai mengalami musim kemarau pada Juni 2026.
Kamu pasti pernah bertanya, kenapa meskipun sudah memasuki musim kemarau tetapi tetap turun hujan? Yuk simak penjelasannya di artikel ini.
Musim Kemarau Bukan Berarti Nol Hujan
Masih banyak dari kita yang salah paham dengan mengira kemarau berarti langit akan bersih total dari awan hujan selama berbulan-bulan. Faktanya, menurut BMKG, suatu wilayah dikatakan memasuki musim kemarau jika curah hujannya berada di bawah 50 mm per dasarian (10 hari) dan diikuti oleh dasarian berikutnya.
Baca juga: Juni Puncak Musim Kemarau di Kota Medan |
Artinya, hujan tetap bisa turun, hanya saja intensitas dan frekuensinya jauh lebih rendah dibandingkan saat musim hujan. Lantas kenapa bisa terjadi hal seperti itu? Dilansir dari akun Instagram resmi @infobmkg, ada 4 alasan utama kenapa musim kemarau bisa tetap turun hujan.
Alasan Turun Hujan di Musim Kemarau
1. Lautan Hangat Indonesia
Indonesia adalah negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut hangat. Meskipun angin kering bertiup, penguapan dapat tetap terjadi dan menjadi bahan baku untuk pembentukan awan hujan yang bisa muncul kapan saja.
Simak Video "Video: Siap-siap! Awal Musim Kemarau di Indonesia Dimulai Juli"
(astj/astj)