Media sosial tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sebagian besar masyarakat saat ini. Banyak yang menyebut bahwa multitasking di media sosial dapat menyebabkan penurunan daya ingat, begini penjelasannya.
Salah satu fenomena yang terkenal dalam dunia media sosial adalah digital amnesia. Melansir dari Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Al-Manar digital amnesia adalah kecenderungan seseorang untuk melupakan informasi yang didapat dengan mudah secara digital.
"Digital amnesia merujuk pada kecenderungan manusia untuk lupa akan informasi yang dapat dengan mudah diakses melalui perangkat digital," tulis studi tersebut dilansir detikSumut, Jumat (22/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelitian yang sama disebutkan bahwa multitasking media sosial dapat mengganggu fokus dan konsentrasi. Sehingga dikhawatirkan dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan memori episodik yaitu kemampuan mengingat peristiwa secara detail.
"Multitasking ini melibatkan peralihan cepat antara berbagai aplikasi dan aktivitas, yang dapat mengakibatkan gangguan fokus dan konsentrasi. Memori episodik, yang merujuk pada kemampuan untuk mengingat peristiwa dan pengalaman pribadi secara detail, sangat dipengaruhi oleh kualitas perhatian dan konsentrasi. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa multitasking media sosial dapat mengganggu fokus dan perhatian, yang pada gilirannya dapat berdampak negatif pada memori episodik," lanjut studi tersebut.
Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa Gen-Z yang sering melakukan multitasking media sosial, menyebabkan rendahkan memori episodik dibanding yang tidak melakukannya. Multitasking media sosial ini meningkatkan beban kognitif yang akhirnya mempengaruhi kemampuan memori episodik.
"Generasi Z, yang sering menggunakan media sosial dan melakukan multitasking media sosial, memiliki skor memori episodik yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak. Multitasking media sosial menyebabkan gangguan fokus dan perhatian serta meningkatkan beban kognitif, yang mengganggu kemampuan memori episodik," jelas studi itu.
Durasi dan multitasking media sosial menurunkan memori episodik secara signifikan. Hal ini menyebabkan seseorang kesulitan dalam bekerja dan belajar hingga memicu kecemasan dan depresi.
"Penggunaan media sosial dengan durasi lebih dari 2 jam per hari dan multitasking media sosial berdampak signifikan pada penurunan skor memori episodik. Dampak negatif ini dapat menyebabkan kesulitan dalam belajar, bekerja, dan menjalin hubungan, serta memicu frustrasi, kecemasan, dan depresi," lanjut studi tersebut.
Dalam penelitian yang sama, disarankan agar membatasi waktu bermedia sosial. Selain itu melakukan latihan konsentrasi dan fokus, tidur yang cukup serta mengonsumsi makanan yang bagus untuk kesehatan otak.
"Pertama, mengurangi penggunaan media sosial dengan menetapkan batas waktu layar dan mengambil istirahat secara berkala dari media social. 26 Kedua, meningkatkan fokus dan konsentrasi melalui latihan mindfulness, seperti meditasi atau yoga, serta mendapatkan tidur yang cukup. 27 Ketiga, memperkuat memori episodik dengan mempelajari teknik menghafal, terlibat dalam aktivitas yang merangsang otak, dan mengkonsumsi makanan yang sehat untuk otak," tutup studi tersebut.
Artikel ini ditulis oleh Rindi Antika peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom.
(afb/afb)











































