Kisaran dalam Catatan Sejarah, Bermula dari 'Hisaran'

Kisaran dalam Catatan Sejarah, Bermula dari 'Hisaran'

Siti Asyaroh - detikSumut
Sabtu, 16 Mei 2026 08:00 WIB
Alun-Alun Kota Kisaran
Foto: Alun-Alun Kota Kisaran (Dok. Situs Pemkab Asahan)
Medan -

Kota Kisaran di Kabupaten Asahan memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan jalur perdagangan, perkebunan kolonial, hingga perubahan sosial masyarakat. Sejarawan Erond L. Damanik menyebut, nama Kisaran sudah tercatat sejak awal abad ke-19 dalam catatan penjelajah asal Inggris, John Anderson.

Menurut Erond, saat ini banyak masyarakat mengaitkan asal-usul Kisaran dengan legenda naga di Sungai Silou. Namun, ia menilai cerita tersebut lebih dekat kepada mitos dibanding fakta sejarah.

"Referensi pertama yang mencatat nama 'Kisaran' ditemukan pada catatan John Anderson pada kunjungannya selama enam bulan pada Desember-Juni 1823 di pantai timur Sumatra. Dalam bukunya, Mission to the East Coast of Sumatra, Anderson menyebut nama teritori 'Hisaran'," ujar Erond, Selasa (12/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anderson diketahui menjelajahi Sungai Asahan yang saat itu menjadi jalur transportasi utama menuju pedalaman. Dalam catatannya, ia juga menjelaskan kondisi Kesultanan Asahan, mulai dari pemerintahan, jumlah penduduk, hingga potensi ekonomi wilayah tersebut.

Nama Kisaran Berasal dari Bahasa Simalungun

Erond menjelaskan, dalam bahasa Simalungun, kata "hisaran" berarti menurun. Istilah itu menggambarkan kondisi wilayah yang datar namun melandai seperti membentuk kuali yang luas.

ADVERTISEMENT

Pada masa itu, Kisaran masih menjadi bagian dari Kesultanan Asahan. Penduduknya diperkirakan sekitar 1.000 orang. Komoditas utamanya berupa lada, rotan, dan sarang burung walet yang dibawa dari pedalaman menuju pelabuhan di muara Sungai Asahan.

"Anderson mencatat bahwa di daerah aliran sungai Asahan dan Silou menamakan dirinya dengan 'Semilongan' atau Simalungun, yang sebagian sudah Islam di pesisir sementara di pedalaman masih penganut agama leluhur. Sebagian lagi, Anderson mencatat dengan 'Battaks'," katanya.

Selain itu, Anderson juga mencatat adanya perdagangan opium di wilayah Asahan. Saat itu, opium didatangkan dari Singapura dan ditukar dengan hasil bumi seperti rotan, lada, dan sarang walet.

"Kisaran yang menjadi bagian dari Kesultanan Asahan kala itu, memang embrionya sudah berdiri sebelum kedatangan Anderson, setidaknya, penjelasan Anderson menyebut bahwa Sultan Asahan kala itu adalah bandar Opium, pemakai opium, termasuk banyak masyarakatnya pengguna opium. Opium disebut diimpor dari Singapura dan ditukar dengan rotan, lada, ataupun sarang walet," ujarnya.

Perkebunan Kolonial Jadi Titik Perkembangan Kisaran

Erond mengatakan, Kisaran sebenarnya belum terlalu populer sebelum masa kolonial. Perkembangan besar baru terjadi ketika perkebunan Belanda mulai diperluas pada 1921.

Dua perusahaan besar yang berperan dalam perkembangan wilayah itu adalah Nederlandsch-Indische Cultuur Maatschappij (NICM) dan Hollandsch-Amerikaansche Plantage Maatschappij (HAPM).

"Jadi, perkebunan kolonial menjadi faktor penentu perkembangan Kisaran di mana tanah-tanah di wilayah itu dikonsesikan (digadaikan) Sultan Asahan kepada NICM dan HAPM," tuturnya.

Pesatnya industri perkebunan kemudian melahirkan berbagai fasilitas modern di Kisaran. Hingga kini, sejumlah bangunan peninggalan kolonial masih dapat ditemukan, seperti Rumah Sakit Chatrine yang kini dikenal sebagai RS Kartini, stasiun kereta api, sekolah, pertokoan, bank, hingga kantor perkebunan.

Revolusi Sosial 1946 Ubah Struktur Masyarakat

Selain perkebunan, perubahan sosial besar di Kisaran juga dipengaruhi oleh Revolusi Sosial 3 Maret 1946. Menurut Erond, peristiwa itu menjadi tragedi besar bagi Kesultanan Asahan dan keluarga bangsawan Melayu.

"Ketika terjadi, revolusi sosial menghantam seluruh keluarga kesultanan dan kerabatnya, termasuk setiap orang yang dekat dengan kesultanan. Mayatnya banyak ditemukan di jalanan di Asahan dan Kisaran dan sebagian di buang ke Sungai Asahan dan Sungai Silou," kata Erond.

Ia menjelaskan, revolusi sosial tersebut mengubah struktur masyarakat di Kisaran. Jika sebelumnya kelompok Melayu memiliki posisi penting dalam kesultanan, setelah peristiwa itu masyarakat pendatang mulai lebih dominan dalam bidang ekonomi dan sosial.

Perkebunan kolonial juga membawa banyak pendatang ke Kisaran, seperti masyarakat Jawa, India, Tionghoa, hingga Eropa. Sistem perkebunan memperkenalkan kuli kontrak, ekonomi upah, layanan kesehatan modern, hingga pembangunan infrastruktur.

"Saat ini, perekonomian Kisaran memang cenderung perkebunan dan aktivitas jasa tetapi Tionghoa, Simalungun, Toba dan Jawa adalah paling progresif, sedang penduduk asli seperti Melayu semakin memudar," tutupnya.

Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads