Pangkalan Brandan di Kabupaten Langkat menyimpan salah satu kisah heroik dalam sejarah perjuangan Indonesia pada 1947. Kilang minyak yang menjadi pusat industri energi nasional dibumihanguskan oleh pejuang untuk mencegah Belanda kembali menguasai aset strategis tersebut.
Dalam buku Kisah dari Deli: Masalah Sosial dan Pembangunan di Kota Medan (Jilid II), Erond L. Damanik menjelaskan bahwa kilang minyak di Pangkalan Brandan saat itu nyaris rusak total akibat perang yang berkecamuk di Langkat.
"Peristiwa ini populer disebut dengan 'Brandan Bumi Hangus' yang bergerak dari perbatasan gebang menuju Pangkalan Brandan," tulis Erond dalam bukunya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Erond, aksi pembumihangusan dilakukan karena sejumlah orang Eropa masih bertahan di kawasan tambang minyak dan diduga tidak ingin meninggalkan aset tersebut. Untuk mengusir mereka, pasukan Republik membombardir kilang minyak yang sebelumnya menjadi pusat produksi energi terbesar di Sumatera Utara.
Penulis M. Basri, yang dikutip Erond, menyebut penghancuran itu dilakukan demi mencegah Belanda memanfaatkan kembali fasilitas minyak yang sangat vital.
"Pemusnahan (bumi hangus) yang dilakukan pada tahun 1947 itu dimaksudkan untuk mengusir Belanda yang menguasai tambang minyak Pangkalan Brandan," tulis Basri.
Akibat peristiwa tersebut, tambang minyak Pangkalan Brandan mengalami kerusakan parah. Ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian, sementara berbagai fasilitas industri yang telah dibangun sejak akhir abad ke-19 ikut hancur.
Padahal, Pangkalan Brandan memiliki posisi sangat penting dalam sejarah perminyakan Indonesia. Kawasan ini berkembang setelah penemuan sumur minyak Telaga Said pada 1885, yang menjadi awal eksplorasi minyak komersial pertama di Indonesia dan salah satu fondasi terbentuknya Royal Dutch Shell.
Setelah Indonesia merdeka, industri minyak di Langkat akhirnya dinasionalisasi pada 1958. Proses ini menjadi tonggak penting menuju lahirnya PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan energi nasional.
Kini, Brandan Bumi Hangus dikenang sebagai simbol keberanian para pejuang yang rela menghancurkan aset bernilai tinggi demi mempertahankan kedaulatan bangsa. Dari Pangkalan Brandan, sejarah membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia dipertahankan tidak hanya dengan senjata, tetapi juga dengan pengorbanan besar atas sumber daya strategis negara.
Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: Iran Serang Kilang Minyak Aramco di Saudi, Pekerja Dievakuasi"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)











































