Di balik tenangnya riak air di perairan Belawan yang kini sibuk dengan lalu lintas kapal kontainer, tersimpan sebuah rahasia besar dari masa kelam Perang Dunia II. Jauh di bawah permukaan laut, reruntuhan besi raksasa menjadi saksi bisu era di mana pelabuhan ini menjadi "neraka" bagi armada Sekutu.
Neraka di Pelabuhan: Strategi Bumi Hangus 1942
Peristiwa tenggelamnya kapal-kapal di Belawan merupakan bagian dari strategi pertahanan yang drastis. Berdasarkan arsip media primer, serangan udara Jepang memaksa pihak Belanda mengambil keputusan pahit:
"Laporan harian mengenai intensitas serangan udara Jepang di Pelabuhan Belawan dan instruksi penenggelaman kapal (scuttling) secara sengaja oleh otoritas Belanda demi melumpuhkan akses Pelabuhan," tulis De Sumatra Post, Edisi Januari - Maret 1942.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah penenggelaman kapal ini diambil agar fasilitas vital tersebut tidak jatuh ke tangan musuh dalam kondisi utuh. Strategi "bumi hangus" ini menciptakan kuburan besi di dasar laut yang jejaknya masih ada hingga hari ini.
Jejak Evakuasi yang Tragis
Kekacauan di pesisir Sumatera Utara saat itu bukan sekadar catatan kaki. Sejarawan P.C. Boer menggambarkan betapa gentingnya situasi saat evakuasi berlangsung di tengah ancaman serangan musuh:
"Dokumentasi mengenai evakuasi tragis dari Sumatera Utara dan hancurnya armada kapal uap serta kapal dagang pendukung militer di pesisir Belawan akibat desakan pasukan Jepang," P.C. Boer, dalam buku The Loss of Java: The Final Fight for the Dutch East Indies.
Selat Malaka: Jalur Perburuan Strategis
Pentingnya perairan ini juga ditegaskan dalam literatur militer maritim. Lokasinya yang strategis membuat kapal-kapal yang mengangkut bahan bakar menjadi target empuk:
"Analisis mengenai Selat Malaka sebagai jalur perburuan kapal selam dan titik strategis pengangkutan bahan bakar minyak dari kilang Pangkalan Brandan selama Perang Pasifik." John O'Connell, dalam buku Sunk! Japanese Submarine Victories in World War II.
Ancaman Penjarahan 'Makam Perang'
Saat ini, situs-situs bersejarah di bawah laut tersebut berada dalam kondisi terancam oleh aktivitas ilegal yang merusak bukti sejarah:
"Laporan mengenai hilangnya bukti sejarah maritim akibat penjarahan ilegal besi tua pada bangkai kapal peninggalan Perang Dunia II di perairan Indonesia, termasuk Selat Malaka." The Vanishing Wrecks of the Java Sea, Laporan Investigasi Maritim Internasional.
Mengunci Memori Lewat Arsip
Meski sisa fisik kapal tersebut kini tersembunyi di kedalaman laut, catatan visual dalam koleksi Digital Collections Leiden University (Koleksi: Haven Belawan 1942) memberikan deskripsi dramatis tentang kepulan asap hitam yang sempat menyelimuti langit Belawan, menandai titik-titik di mana sejarah maritim kita terkubur.
Menelusuri sejarah kapal tenggelam di Belawan mengingatkan kita bahwa laut Sumatera Utara bukan hanya tempat mencari nafkah, tapi juga monumen bawah laut yang menyimpan kisah keberanian dan tragedi yang kini membisu di dasar laut.
Artikel ditulis A Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: Rusia Gelar Parade Hari Kemenangan Perang Dunia II"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
