Membuka media sosial sesaat setelah bangun tidur hingga terus scrolling sebelum tidur kini menjadi kebiasaan banyak orang. Aktivitas yang dilakukan hampir setiap hari itu terlihat sederhana, namun tanpa disadari dapat membuat pikiran sulit benar-benar beristirahat.
Notifikasi yang terus muncul, video yang tak habis-habis, hingga dorongan untuk selalu mengikuti tren membuat banyak orang semakin sulit lepas dari ponsel. Bagi sebagian orang, media sosial bahkan menjadi hal pertama yang dibuka saat bangun tidur dan terakhir dilihat sebelum memejamkan mata.
Di tengah kebiasaan tersebut, muncul rasa lelah yang sering kali tidak disadari. Pikiran terasa penuh, fokus menurun, hingga emosi lebih mudah terganggu setelah terlalu lama terhubung dengan dunia digital.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam jurnal "Digital Detox: Dampak Positif Puasa Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Generasi Milenial dan Gen Z" yang dimuat dalam AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional, disebutkan bahwa kehidupan digital membuat banyak orang berada dalam tekanan untuk terus hadir dan aktif di media sosial.
"Paparan terhadap konten yang terus mengalir dan tuntutan untuk selalu aktif menciptakan kondisi mental yang rentan terhadap stres, terutama ketika interaksi digital tersebut disertai dengan harapan untuk tetap relevan dan diperhatikan oleh lingkungan daring," tulis jurnal tersebut.
Tekanan itu tidak selalu terlihat secara langsung. Namun perlahan, kebiasaan melihat kehidupan orang lain di media sosial membuat sebagian orang mulai membandingkan diri mereka sendiri.
"Ketika seseorang terus-menerus membandingkan pencapaian, penampilan, atau gaya hidupnya dengan yang dilihat di media sosial, maka muncul perasaan tidak berdaya, kecewa, bahkan rasa malu atas kehidupan yang mereka jalani," tulis jurnal tersebut.
Tak hanya soal perbandingan sosial, arus informasi yang terus masuk juga membuat otak seperti tidak memiliki waktu jeda. Notifikasi, pesan, video pendek, hingga berbagai informasi baru terus muncul hampir tanpa henti sepanjang hari.
"Keterpaparan yang terus-menerus terhadap notifikasi, informasi baru, dan ekspektasi sosial secara daring membuat individu sulit untuk beristirahat secara mental. Otak dipaksa untuk terus aktif, menanggapi stimulus digital yang datang tanpa henti,"
Akibatnya, banyak orang tetap merasa lelah meski sedang tidak melakukan aktivitas berat. Bahkan saat waktu istirahat, tangan sering kali refleks kembali membuka media sosial.
Kondisi itu membuat sebagian orang mulai mencoba mengambil jeda dari dunia digital melalui digital detox atau puasa media sosial. Caranya beragam, mulai dari membatasi screen time, mematikan notifikasi, hingga sengaja tidak membuka media sosial dalam waktu tertentu.
Pada awalnya, sebagian orang mengaku merasa gelisah dan takut tertinggal informasi. Namun setelah mulai terbiasa, banyak yang merasa pikirannya menjadi lebih tenang.
"Tanpa adanya dorongan untuk terus memeriksa notifikasi, memperbarui status, atau membandingkan diri dengan orang lain secara daring, individu mulai memiliki waktu dan ruang untuk menjalani hari-hari dengan lebih terarah dan penuh kesadaran,"
Selain itu, kualitas tidur juga disebut ikut membaik ketika penggunaan media sosial mulai dikurangi, terutama pada malam hari.
"Ketika akses terhadap media sosial dikurangi, waktu menjelang tidur tidak lagi dipenuhi dengan aktivitas menggulir layar atau memikirkan konten yang dikonsumsi secara intensif,"
Tak sedikit pula yang mulai kembali menikmati aktivitas sederhana yang sebelumnya jarang dilakukan karena terlalu lama menatap layar ponsel. Mulai dari membaca buku, berjalan santai, hingga berbincang langsung dengan keluarga atau teman.
"Banyak yang mulai menghargai kembali momen kebersamaan tanpa interupsi dari dunia maya, seperti berbincang di meja makan, berjalan bersama, atau hanya menikmati keheningan dalam kebersamaan,"
Digital detox pun dinilai bukan berarti harus sepenuhnya meninggalkan media sosial. Namun, memberi jeda dan membatasi penggunaan media sosial dianggap menjadi salah satu cara agar pikiran tidak terus-menerus dipenuhi aktivitas digital setiap hari.
Artikel ini ditulis oleh Laila Syakira peserta program Maganghub Kemenaker di detikcom.
Simak Video "Video: Apakah Larangan Media Sosial untuk Anak di Australia Gagal?"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)











































