Di balik kejayaan perkebunan tembakau di Deli, tersimpan kisah yang jarang diceritakan. Bagi para kuli kontrak, sakit bukan sekadar kondisi tapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di bawah sistem kolonial.
Lingkungan yang Melahirkan Penyakit
Kesehatan buruh tidak bisa dilepaskan dari kondisi tempat tinggal mereka. Dalam penelitian "Sejarah Kesehatan Kuli Kontrak di Perkebunan Deli Maatschappij (1872-1942)" oleh Winda Octavia dan Lister Eva Simangunsong, disebutkan bahwa kuli tinggal di barak panjang yang dihuni ratusan orang tanpa ventilasi yang memadai.
"Lingkungan yang kotor, sisa air tergenang, serta sanitasi buruk menjadi sumber utama munculnya penyakit di kalangan kuli. " tulis penelitian tersebut
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Barak yang padat dan tidak higienis mempercepat penyebaran wabah, menjadikan penyakit sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan buruh.
Wabah yang Datang Bertubi-tubi
Berbagai penyakit tropis menjadi ancaman serius di perkebunan, mulai dari kolera, beri-beri, cacar, hingga influenza. Data dalam jurnal tersebut menunjukkan betapa tingginya angka kematian. Pada tahun 1918, dari lebih dari 252 ribu kuli kontrak, tercatat ribuan kematian akibat wabah influenza.
"Wabah penyakit berkembang cepat akibat mobilitas kuli dan kondisi lingkungan yang tidak sehat." Tulisnya
Selain itu, kolera menjadi salah satu wabah paling mematikan, bahkan sudah menyebar sejak perjalanan kuli menggunakan kapal menuju perkebunan.
Tubuh yang Dipaksa Bekerja
Meski sakit, banyak kuli tetap dipaksa bekerja. Fasilitas kesehatan yang ada tidak memadai dan lebih berorientasi pada menjaga produktivitas daripada menyelamatkan nyawa.
Dalam catatan penelitian tersebut, disebutkan bahwa: "Kuli yang sakit sering kali tidak mendapatkan perawatan layak, bahkan harus membayar biaya pengobatan dengan kondisi fasilitas yang sangat minim."
Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan bukan prioritas utama, melainkan hanya bagian dari sistem produksi.
Penyakit dan Struktur Sosial
Penyebaran penyakit juga berkaitan erat dengan struktur sosial di perkebunan. Praktik prostitusi yang marak, ketimpangan jumlah laki-laki dan perempuan, serta kondisi ekonomi buruh mempercepat penyebaran penyakit kelamin seperti sifilis.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa penyakit tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan sistem sosial dan ekonomi kolonial.
Perubahan baru mulai terlihat ketika wabah penyakit mulai merugikan pihak perkebunan. Pembangunan rumah sakit, laboratorium, dan sistem karantina dilakukan untuk menekan angka kematian.
Namun, sebagaimana dicatat dalam penelitian tersebut: "Upaya kesehatan dilakukan bukan semata untuk kesejahteraan kuli, melainkan untuk menjaga stabilitas produksi perkebunan. "
Sejarah perkebunan di Sumatera Utara tidak hanya tentang kejayaan ekonomi, tetapi juga tentang tubuh-tubuh yang lemah, penyakit yang menyebar, dan kematian yang sering kali sunyi.
Di balik setiap hasil panen, ada kisah tentang manusia yang berjuang melawan sakit dalam sistem yang tidak memberi mereka banyak pilihan.
Simak Video "Video: Wabah Penyakit Kulit Berbenjol Pada Sapi Merebak di Jembrana"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)











































