Rumor Kanibal di Sumatra Utara, Ternyata untuk Kepentingan Dagang

Rumor Kanibal di Sumatra Utara, Ternyata untuk Kepentingan Dagang

A.Fahri - detikSumut
Kamis, 23 Apr 2026 08:01 WIB
Peta Sumatera abad ke 14 Masehi (Foto: kitlv.nl)
Foto: Peta Sumatera abad ke 14 Masehi (Foto: kitlv.nl)
Medan -

Sejarah Sumatra Utara menyimpan narasi yang jarang dibahas secara kritis, salah satunya adalah rumor tentang praktik kanibalisme yang pernah dilekatkan pada masyarakat pedalaman. Ternyata rumor itu dibuat untuk kepentingan perdagangan.

Penelitian dalam buku "Rumor Kanibal, Menolak Batak dan Jejak Perdagangan: Etnohistori Sumatra Bagian Utara" karya Erond L. Damanik menunjukkan bahwa stigma tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan. Dalam kajian etnohistori, label "kanibal" terhadap masyarakat di Sumatra bagian utara bukan semata fakta, melainkan konstruksi sosial yang dipengaruhi kepentingan ekonomi dan kolonial.

Menurut Damanik, "penyebutan masyarakat pedalaman sebagai liar, tidak beradab, dan kanibal sesungguhnya merupakan ciptaan yang dibentuk oleh pihak tertentu untuk tujuan tertentu."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rumor yang Dibentuk untuk Kepentingan Dagang

Sejak abad ke-12, kawasan Sumatra bagian utara dikenal kaya akan komoditas seperti kapur barus, kemenyan, dan emas. Kekayaan ini menarik perhatian pedagang asing dan menjadikan wilayah tersebut bagian penting dari jalur perdagangan internasional, khususnya di Selat Malaka.

Namun, di balik ramainya aktivitas perdagangan, muncul strategi sosial yang unik. Rumor kanibalisme disebut sengaja disebarkan oleh masyarakat pesisir untuk membatasi akses pedagang asing ke pedalaman.

ADVERTISEMENT

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa stigma ini berfungsi sebagai alat kontrol perdagangan. Dengan menakut-nakuti pedagang asing, masyarakat pesisir dapat mempertahankan posisi mereka sebagai perantara utama antara pedagang luar dan masyarakat pedalaman.

Antara Fakta dan Mitos

Meski demikian, praktik kanibalisme tidak sepenuhnya fiktif. Damanik mencatat bahwa dalam beberapa kasus, tindakan antropofagi memang terjadi, tetapi dalam konteks tertentu.

"Tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk hukuman terhadap pelaku kejahatan seperti pencuri, tawanan perang, atau pelanggar norma," tulisnya.

Artinya, praktik ini bukan kebiasaan sehari-hari, melainkan bagian dari sistem hukum adat atau respons terhadap pelanggaran berat-fenomena yang juga ditemukan di berbagai wilayah lain di dunia.

Dampak pada Identitas Etnis

Lebih jauh, rumor kanibal ini berkontribusi pada pembentukan identitas etnis di Sumatra Utara. Istilah "Batak" sendiri, menurut Damanik, merupakan konstruksi yang dibentuk oleh etnograf asing dengan konotasi negatif, seperti "liar", "pagan", dan "kanibal".

Konsep ini kemudian digunakan untuk membedakan masyarakat pedalaman dengan masyarakat pesisir yang dianggap lebih "beradab" karena telah memeluk agama Islam.

Warisan Narasi Kolonial

Narasi tentang kanibalisme di Sumatra Utara pada akhirnya tidak bisa dilepaskan dari kepentingan kolonial dan perdagangan. Label tersebut menjadi alat untuk mengontrol wilayah, membentuk identitas, sekaligus membenarkan dominasi kekuasaan.

Kini, para sejarawan dan peneliti mulai mengkritisi narasi tersebut dan melihatnya sebagai bagian dari konstruksi sejarah yang perlu diluruskan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Kejati Sumut Tahan 2 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Smartboard"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads