Mengenal Rape Culture Pyramid, Istilah yang Viral di Media Sosial

Mengenal Rape Culture Pyramid, Istilah yang Viral di Media Sosial

Eme Arapenta Tarigan - detikSumut
Rabu, 15 Apr 2026 14:16 WIB
Ilustrasi Rape Culture Pyramid
Foto: Ilustrasi Rape Culture Pyramid (Instagram Satgas Ppkpt Unair)
Jakarta -

Belakangan ini viral di media sosial terkait kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh 16 orang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) terhadap perempuan.

Meskipun bermaksud sebagai bahan candaan, nyatanya lelucon seksis dapat menjadi langkah awal dalam kekerasan seksual dan memberikan dampak yang serius bagi korban.

Atas kejadian ini, masyarakat ramai membahas tentang 'rape culture pyramid' atau 'piramida budaya pemerkosaan'. Lantas apa sebenarnya makna dari rape culture pyramid? Yuk simak artikel ini sampai akhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Rape Culture?

Dilansir dari Southen Connecticut State University, rape culture atau budaya pemerkosaan adalah lingkungan dimana pemerkosaaan merajalela dan kekerasan seksual dinormasilasi serta dibenarkan dalam media dan budaya populer.

Budaya pemerkosaan dinormalisasi melalui penggunaan bahasa misoginistik (penghinaan dan kebencian terhadap perempuan), objektivasi tubuh perempuan, dan penggambaran kekerasan seksual yang glamor dapat menciptakan masyarakat yang mengabaikan hak dan keselamatan perempuan.

ADVERTISEMENT

Rape jokes atau candaan seksis adalah lelucon yang merendahkan, menghina, mengobjektifikasi, atau melenggangkan stereotip berdasarkan gender, umumnya menyasar perempuan. Meskipun berniat sebagai candaan, rape jokes dikategorikan ke dalam salah satu bentuk pelecehan seksual.

Hal ini diatur dalam Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 Pasal 5 Ayat 2 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Tingkatan Rape Culture Pyramide

Piramida budaya pemerkosaan terbagi ke empat tingkatan utama yaitu tingkatan dasar hingga puncak. Berikut adalah pembahasan dari masing-masing tingkatan yang dikutip dari Buku Saku yang berjudul "Introduction to Sexual Violance".

  • Dasar Piramida

Ini adalah lapisan paling awal dan sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, namun sayangnya hal ini dianggap sebagai lelucon dan hal biasa.

- Sexist jokes atau candaan yang merendahkan gender tertentu

- Objectification yang berarti memandang orang lain sebagai objek seksual

- Locker room talk yang berarti pembicaraan vulgar yang merendahkan orang lain

- Gender stereotypes yang menganggap laki-laki harus lebih dominan dan perempuan harus submisif

  • Lapisan Menengah

Ketika perilaku di dasar dinormalisasikan, maka ia akan naik ke level pelecehan yang lebih intens.

- Catcalling atau menggoda orang lain dengan komentar seksual

- Victim blaming atau menyalahkan korban atas kejadian yang ditimpa

- Slut shaming atau memberikan label negatif pada seseorang berdasarkan eskpresi seksualitasnya.

- Non consesnsual photos yang berarti mengambil atau menyebarkan foto orang lain tanpa izin.

  • Dekat Puncak

Pada titik ini, perilaku sudah masuk ke ranah kontak fisik yang jelas-jelas melanggar hukum.

- Groping atau meraba tubuh orang lain tanpa izin

- Sexual harassment atau pelecehan seksual di ruang publik

- Coarced sex atau memaksa untuk berhubungan seksual dengan manupulasi atau rasa bersalah

  • Puncak Piramida

Inilah tingkatan tertinggi dalam piramida budaya pemerkosaan, tahapan ini adalah manifestasi paling brutal yang didukung oleh seluruh fondasi di bawahnya.

- Rape (pemerkosaan)

- Inscest (inses)

- Murder (pembunuhan terkait kekerasan seksual)

Nah itulah pembahasan lengkap terkait apa itu rape culture pyramid dengan memahaminya dnegan baik, kita bisa menciptakan ruang publik yang lebih aman dan nyaman bagi semua orang. Semoga bermanfaat detikers!

Artikel ini ditulis oleh Eme Arapenta Tarigan, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads