Seberapa Penting Selat Hormuz dalam Rantai Pasokan Energi di Dunia?

Seberapa Penting Selat Hormuz dalam Rantai Pasokan Energi di Dunia?

Dwi Puspa Handayani Berutu - detikSumut
Sabtu, 11 Apr 2026 04:05 WIB
A foreign tanker carrying Iraqi fuel oil damaged after catching fire in Iraqs territorial waters, following unidentified attacks that targeted two foreign tankers, according to Iraqi port officials, near Basra, Iraq, March 12, 2026.  REUTERS/Mohamme
Foto: REUTERS/Mohammed Aty
Jakarta -

Selat Hormuz ramai diperbincangkan dunia internasional pasca perang di Timur Tengah. Jalur ini sangat vital dalam rantai pasokan energi negara-negara di dunia.

Jalur air dengan luas 33 Km berada di antara Semenanjung Arab dan pantai selatan Iran. Dikutip dari situs resmi Energy Information Administration (EIA), harga minyak mentah dan produk petroleum meningkat secara signifikan pada kuartal pertama tahun 2026 (1Q26), khususnya menyusul aksi militer di Timur Tengah pada tanggal 28 Februari dan penutupan de facto Selat Hormuz.

Dalam laporan triwulan ini, mereka meninjau perkembangan harga pasar petroleum pada 1Q26, meliputi harga minyak mentah, harga produk petroleum, dan input kilang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dunia menyaksikan betapa rentannya keamanan energi kita ketika ketegangan di kawasan ini mencapai puncaknya. Mari kita gali mengapa Selat Hormuz sangat penting.

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Rute ini menjadi satu-satunya jalur keluar bagi negara-negara penghasil minyak besar seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak.

ADVERTISEMENT

Setidaknya 20 hingga 30% minyak mentah global dan Gas Alam Cair (LNG) melewati rute ini setiap hari. Tanpa Selat Hormuz, pasokan energi untuk negara-negara konsumen besar seperti China, India, dan Jepang akan mengalami kehancuran total.

Dampak Nyata di Tahun 2026

Krisis terbaru yang dimulai pada 28 Februari 2026 menunjukkan efek langsung dari gangguan di selat ini. Setelah terjadi aksi militer dan penutupan de facto Selat Hormuz karena ancaman serangan Iran terhadap kapal tanker, pasar minyak dunia segera menunjukkan reaksi yang kuat.

Berikut adalah beberapa fakta mencengangkan dari laporan awal tahun 2026:

  1. Kenaikan harga brent, minyak mentah jenis Brent yang awalnya dibuka di harga $61 per barel, melonjak tajam hingga menyentuh $118 per barel pada akhir Maret. Ini adalah kenaikan harga terbesar dalam catatan sejarah sejak 1988.
  2. Selisih harga global, harga Brent melonjak lebih tinggi dibandingkan minyak WTI Amerika karena risiko fisik di Selat Hormuz memutus aliran minyak antar wilayah secara drastis.
  3. Inflasi bahan bakar, di Amerika Serikat, harga bensin ritel mencapai $3,99 per galon, sementara solar (diesel) meroket hingga $5,40 per galon.

Mengapa Militer AS Begitu Siaga?

Untuk Amerika Serikat dan rekan-rekannya, melindungi Selat Hormuz bukan sekadar soal konflik militer, tetapi juga berhubungan dengan Keamanan Energi. Gangguan yang terjadi di tempat ini dapat menyebabkan inflasi global yang sangat tak terkontrol.

Ketika jalur navigasi di selat terputus, banyak negara penghasil minyak terpaksa menghentikan aktivitas produksinya demi keselamatan. Hal ini menyebabkan penurunan signifikan dalam pasokan global, sementara permintaan tetap tinggi, khususnya untuk bahan bakar jet dan distilat, yang permintaannya semakin meningkat di Eropa dan Amerika Utara.

Selat Hormuz berfungsi sebagai pusat pengaliran energi ke berbagai belahan dunia. Ancaman terhadap blokade atau serangan fisik di jalur ini bukan hanya sekadar masalah kawasan, tetapi juga merupakan ancaman nyata bagi keuangan setiap individu di seluruh dunia. Kestabilan di Selat Hormuz sangat penting agar harga bahan bakar, biaya transportasi, dan harga barang dasar di pasar tetap terjangkau.

Artikel ditulis Dwi Puspa Handayani Berutu peserta magang Kemnaker, di detikcom




(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads