Mengapa 9 April Diperingati Sebagai Hari TNI AU? Intip Sejarahnya

Mengapa 9 April Diperingati Sebagai Hari TNI AU? Intip Sejarahnya

Dwi Puspa Handayani Berutu - detikSumut
Rabu, 08 Apr 2026 09:00 WIB
Ilustrasi TNI AU
Ilustrasi TNI AU (Foto: Grandyos Zafna)
Medan -

Setiap tahun pada tanggal 9 April, langit Indonesia sering kali dimeriahkan oleh penampilan pesawat tempur yang menawan. Namun, apakah Anda pernah mempertimbangkan panjangnya sejarah yang mendasari peringatan Hari Angkatan Udara Republik Indonesia (TNI AU)? Lebih dari sekadar acara formal, tanggal ini merupakan lambang perjuangan dari awal perjalanan hingga menjadi pengawal kedaulatan udara yang dihormati di arena internasional.

Mari kita telusuri perjalanan transformatif TNI AU yang dilansir dari situs resmi Komando Pasukan Khusus, mulai dari pesawat yang dirampas hingga adopsi teknologi tercanggih saat ini.

Asal usul TNI AU dimulai tidak lama setelah kemerdekaan diumumkan. Pertama kali, organisasi ini dikenal dengan nama Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang didirikan pada 22 Agustus 1945. Mengingat urgensi untuk memiliki angkatan udara, pada 5 Oktober 1945, BKR berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan yang dipimpin oleh Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perkembangan terus berlanjut hingga pada 9 April 1946, TRI Jawatan Penerbangan secara resmi dibubarkan dan digantikan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Di sinilah letak alasan mengapa setiap 9 April dirayakan sebagai hari kelahiran TNI AU.

Di fase awalnya, TNI AU tidak lah berlebihan dalam hal peralatan. Para penerbang pemberani kita hanya memanfaatkan pesawat yang diambil dari tangan tentara Jepang seperti Cureng, Guntei, dan Hayabusha. Meskipun menggunakan pesawat yang sudah usang, TNI AU sukses melakukan aksi heroik dalam Agresi Militer Belanda II dengan menjatuhkan bom di pertahanan musuh di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.

ADVERTISEMENT

Memasuki tahun 1960-an, TNI AU mulai mendapatkan penguatan melalui pesawat-pesawat modern dari Uni Soviet dan negara-negara Barat. Nama-nama seperti F-86 Sabre dan Su-7 menjadi saksi awal dari proses modernisasi yang kita jalani.

Seiring waktu, perhatian TNI AU telah berpindah ke kemandirian dalam industri pertahanan. Melalui kolaborasi dengan PT Dirgantara Indonesia, kemunculan pesawat seperti CN-235 menandai suatu pencapaian penting yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu menciptakan perlengkapan pertahanan secara mandiri. Saat ini, di era digital, TNI AU juga telah mengadopsi teknologi UAV (Drone) untuk keperluan pengawasan dan pengumpulan intelijen.

TNI AU bukan sekadar perihal pertempuran. Angkatan udara ini juga aktif dalam:

Β· Misi Kemanusiaan: Tanggap darurat terhadap bencana alam (seperti gempa bumi dan banjir) serta distribusi bantuan medis.

Β· Misi Perdamaian Dunia: Secara aktif terlibat dalam menjaga perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Β· Diplomasi Pertahanan: Mengadakan latihan kolaboratif bersama negara-negara ASEAN dan mitra internasional untuk memperkuat keamanan di kawasan.

Saat ini, dengan pengadaan alat utama sistem senjata modern seperti Sukhoi Su-35 dan F-16, TNI AU terus memperkuat kekuatannya. Tujuan utama ke depan adalah pengembangan teknologi radar, sistem pertahanan udara yang terintegrasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan di Sekolah Tinggi Angkatan Udara (STAU).

Dari berawal dengan hanya mengandalkan pesawat rampasan, kini telah bertransformasi menjadi kekuatan udara yang mandiri dan profesional. Hari peringatan 9 April menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memberikan dukungan kepada para penjaga langit dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh peserta magang kemnaker, Dwi Puspa Handayani Berutu di detik.com.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads