Memasuki bulan April sudah banyak calon mahasiswa yang memilih jurusan dan mendaftar untuk kuliah. Bagaimana memilih jurusan yang baik? Begini tips dari Psikolog.
Psikolog Klinis, Sairah menyebutkan ada beberapa faktor anak dalam memilih jurusan, salah satunya adalah minat. Minat ini biasanya ada sejak kecil dan lebih mengerucut saat beranjak remaja.
"Pertama dari minat. Minat awalnya itu seperti apa, itu biasanya sudah eksploratif gitu semenjak dari kecil sesuai dengan cita-citanya atau mungkin dari role model-nya. Kemudian beranjak lah dia ke SMP, SMA semakin mengerucut, karena ada minat awal, interest pada satu bidang begitu, atau di profesi tertentu begitu," ujarnya saat diwawancarai detikSumut, Senin (6/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya ada kemampuan akademik atau bakat. Kemampuan akademik ini bisa dilihat dari nilai tertentu yang dikuasai saat sekolah agar bisa berkesinambungan untuk jurusan kuliahnya.
"Kemudian yang kedua, adanya kemampuan akademik, ini lebih kepada bakat. Kalau minat itu kan kemauan tuh apa yang dia inginkan begitu, kemudian sejalan juga dengan kemampuan akademiknya seperti di nilai-nilai pelajaran tertentu gitu misalkan. Maka dia nilai-nilai mana yang lebih tinggi, itu yang bisa menjuruskan dia juga kepada jurusan sekolah. Kalau di SMA kan ada jurusan IPA, IPS, yang itu sebenarnya nanti akan mengerucut juga dan berkesinambungan di jurusan-jurusan kuliah saat kuliah begitu," tuturnya.
Selain faktor internal, ada juga faktor eksternal dalam memilih jurusan, seperti pengaruh lingkungan. Mulai dari teman, orang tua, hingga guru di sekolah.
"Kemudian bisa juga berdasarkan dari pengaruh eksternal. Pengaruh eksternal ini apa? Bisa dari teman, dipengaruhi oleh orang tua atau bahkan disuruh oleh orang tua atau diarahkan oleh guru. Itu sebenarnya merupakan pengaruh-pengaruh eksternal. Ya nggak apa-apa selama tidak ada paksaan di situ dan anaknya pun juga minat di situ," ujarnya.
Selain itu, Sairah menjelaskan ada juga persepsi sosial. Misalnya anggapan terhadap jurusan tertentu lebih bergengsi dibanding jurusan lainnya.
"Kemudian apa namanya ada juga tentang persepsi sosial. Terkait biasanya, 'Oh kalau yang lebih bergengsi itu jurusan ini' tanpa mempertimbangkan minat atau bakatnya. Bergengsi seperti kayak IPA lebih bergengsi daripada IPS, atau jurusan kedokteran itu lebih bergengsi daripada jurusan yang lain dan lain sebagainya," lanjutnya.
Baca juga: Benarkan Gen-Z Paling Rentan Depresi? |
Untuk itu, Sairah menyarankan agar lebih mempertimbangkan minat dan bakat dalam pemilihan jurusan, tidak hanya sekedar pengaruh lingkungan atau ikut-ikutan. Karena itu sekarang tidak jarang diadakan tes minat bakat di sekolah.
"Ketika seorang remaja ini untuk memilih jurusan kuliah maupun di jurusan di SMA-nya, mohon juga banyak dipertimbangkan tidak hanya sekedar ikut-ikutan tapi juga mempertimbangkan bakat dan minat. Maka nggak jarang juga sekarang untuk di SMA-SMA itu sudah ada tes secara psikologi, tes bakat minat," ujarnya.
Meskipun tidak sepenuhnya pasti, Sairah menyebut tes minat bakat ini dapat membantu mengarahkan anak dalam memilih jurusan yang cocok. Namun tes ini harus dilakukan oleh tenaga professional.
"Itu sebenarnya juga bisa membantu walaupun tidak bisa mengklaim 100%, tapi membantu untuk lebih mengarahkan. Jadi ada tes bakat minat yang dilakukan oleh profesional, oleh psikolog, kemudian juga nanti dilakukan juga pendampingan atau adanya konseling bakat minat tersebut. Dari hasil tes tersebut, maka bisa diklasifikasikan si anak lebih cocok di jurusan apa," tutupnya.
Artikel ini ditulis oleh Rindi Antika peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom.
(afb/afb)











































