Heran Kenapa Medsos Gen Z Nggak Ada Postingannya? Ternyata Ini Alasannya

Heran Kenapa Medsos Gen Z Nggak Ada Postingannya? Ternyata Ini Alasannya

Laila Syakira - detikSumut
Jumat, 03 Apr 2026 06:31 WIB
Ilustrasi zero post (ChatGPT)
Foto: Ilustrasi zero post (ChatGPT)
Medan -

Aktif di media sosial tapi tak pernah mengunggah apa pun? Fenomena ini dikenal dengan 'zero post' dan kini lagi ramai di kalangan Gen Z nih detikers. Di balik akun media sosial yang terlihat "sepi", ternyata ada alasannya nih.

Psikolog klinis Sairah menyebut, tren ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kebutuhan validasi hingga tekanan sosial di dunia digital.

"Fenomena 'zero post' menggambarkan akun yang tetap aktif, tapi tanpa unggahan. Ada yang hanya menjadi pengamat, bahkan ada yang sebelumnya aktif lalu memilih diam. Ini dipengaruhi kesibukan, kebutuhan validasi, sampai tekanan untuk tampil ideal di media sosial," ujarnya saat diwawancarai, Kamis (2/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, media sosial kerap menampilkan realitas yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kehidupan nyata. Kondisi ini mendorong sebagian orang untuk menampilkan versi terbaik dirinya demi mendapat pengakuan.

"Gen Z tumbuh di era digital, sehingga ada dorongan untuk tampil ideal demi mendapat like, komentar, atau pengakuan. Tapi ketika itu berlebihan, justru bisa berdampak negatif," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, kebutuhan validasi juga beriringan dengan keinginan menjaga privasi. Tidak semua orang nyaman membagikan kehidupan pribadinya di ruang publik digital.

"Tidak semua hal ingin dibagikan. Ada juga yang menggunakan dua akun, satu untuk diri apa adanya dan satu lagi untuk citra ideal. Tapi ketika validasi itu justru memicu kecemasan, seseorang cenderung memilih tidak posting," tambahnya.

Kesadaran akan jejak digital, risiko oversharing, hingga keamanan data juga membuat Gen Z semakin selektif dalam bermedia sosial.

Meski begitu, tren zero post tidak sepenuhnya berdampak buruk. Sairah menilai kebiasaan ini dapat membantu mengurangi tekanan untuk tampil sempurna, sekaligus menjaga keseimbangan antara kehidupan di dunia maya dan nyata.

"Secara psikologis, 'zero post' bisa mengurangi tekanan performatif, menjaga privasi, dan membuat relasi di dunia nyata lebih sehat," katanya.

Namun, ia mengingatkan bahwa dampak negatif tetap bisa muncul jika tidak diimbangi dengan interaksi sosial yang sehat.

"Kalau tidak seimbang, seseorang bisa terus membandingkan diri dengan orang lain, merasa terisolasi, hingga mengalami kecemasan. Apalagi jika hanya scrolling tanpa interaksi, itu berisiko terhadap kesehatan mental," ujarnya.

Fenomena ini juga dirasakan langsung oleh Gen Z. Andi, seorang mahasiswa, mengaku kerap merasa terbebani saat ingin mengunggah sesuatu di media sosial.

"Aku ngerasa kalau mau posting harus sesuatu yang achievement. Tapi di sisi lain juga takut, takut orang nggak suka atau malah jadi boomerang buat diri sendiri," katanya.

Hal serupa disampaikan Anggi, seorang pekerja, yang mengaku kurang percaya diri untuk membagikan aktivitas di media sosial.

"Bahkan buat upload story aja aku mikir panjang. Sering juga udah upload, tapi sebelum 24 jam malah aku hapus lagi," ungkapnya.

Fenomena zero post ini menunjukkan bahwa di balik akun yang terlihat pasif, terdapat berbagai pertimbangan psikologis dan sosial yang memengaruhi cara Gen Z mengekspresikan diri di media sosial.

Artikel ini ditulis oleh Laila Syakira peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom




(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads