Sejumlah negara mulai melakukan penghematan akibat perang Timur Tengah yang terjadi antara Iran dengam Amerika Serikat dan Israel. Perang itu sendiri membuat gangguan besar pasokan energi global.
Perang Timur Tengah itu membuat sejumlah negara mengalami kesulitan karena membayar energi lebih mahal atau mengurangi konsumsi.
Konflik ini menyebabkan jalur penting perdagangan energi seperti Selat Hormuz terganggu. Jalur ini biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Serangan terhadap fasilitas energi seperti kilang minyak dan gas juga membuat pasokan energi global berkurang signifikan. Akibatnya, harga energi melonjak sekitar 50%, dengan harga minyak acuan menembus US$ 110 per barel dan beberapa jenis minyak Timur Tengah bahkan mendekati US$ 164 per barel.
Baca juga: Rudal Iran Masih Banyak Meski Terus Digempur |
Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut krisis ini sebagai gangguan energi terburuk dalam sejarah, lebih parah dari embargo minyak tahun 1970-an.
"Anda tidak akan bisa mengatasi ini hanya dengan upaya penghematan. Yang akan terjadi adalah kenaikan harga yang cukup tinggi sehingga orang-orang berhenti mengonsumsi," kata kepala investasi Pickering Energy Partners, Dan Pickering, dikutip detikFinance dari Reuters.
Sejumlah negara telah mencoba menahan lonjakan harga dengan melepas cadangan minyak darurat, total sekitar ratusan juta barel. Namun analis menilai langkah ini tidak cukup untuk menutup kekurangan pasokan jika konflik berlangsung lama.
Karena harga energi melonjak, banyak pemerintah mulai mengambil langkah penghematan, misalnya mengurangi penggunaan listrik dan bahan bakar, mendorong transportasi publik, hingga membatasi konsumsi energi industri.
Simak Video "Video Israel: Kami akan Terus Serang Iran-Hizbullah Sampai Ancaman Hilang"
(astj/astj)