7 Amalan Sunnah Rasulullah SAW Menyambut Hari Raya Idul Fitri

7 Amalan Sunnah Rasulullah SAW Menyambut Hari Raya Idul Fitri

Aisyah Luthfi - detikSumut
Jumat, 20 Mar 2026 15:20 WIB
7 Amalan Sunnah Rasulullah SAW Menyambut Hari Raya Idul Fitri
Foto: Illustrasi Hari Raya Idul Fitri. (Getty Images/iStockphoto/Choreograph)
Medan -

Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H yang jatuh pada tanggal 21 Maret 2026 merupakan momen puncak kemenangan bagi seluruh umat Islam. Namun, lebih dari sekadar bersukacita, Islam mengajarkan kita untuk mengisi hari raya ini dengan amalan-amalan yang bernilai ibadah.

Mengutip buku "How Did the Prophet & His Companions Celebrate Eid?" perayaan Idul Fitri pertama kali digelar oleh Rasulullah SAW dan umat Islam pada tahun kedua Hijriah (624 M), tepatnya usai Perang Badar. Terdapat beberapa amalan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.

Agar perayaan Lebaran 2026 detikers semakin bermakna mari amalkan 7 Sunah Rasulullah SAW dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 berikut ini, lengkap dengan dalilnya. Yuk, simak!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Perbanyak Mengumandangkan Takbir

Amalan pertama yang sangat disunahkan adalah memperbanyak bacaan takbir sejak malam terakhir Ramadan hingga pagi hari 1 Syawal. Anjuran ini berlandaskan pada firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 185:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ

ADVERTISEMENT

Artinya: "Dan sempurnakanlah bilangan Ramadhan, dan bertakbirlah kalian kepada Allah". (QS. Al-Baqarah: 185)

Terdapat dua jenis takbir Idul Fitri:

  • Takbir Muqayyad (Dibatasi)

Takbir yang dilakukan setiap selesai melaksanakan salat fardu maupun sunah.

  • Takbir Mursal (Dibebaskan)

Takbir yang tidak terikat waktu salat dan bisa dikumandangkan di mana saja (rumah, jalan, masjid, atau pasar). Waktunya dimulai sejak tenggelam matahari di malam 1 Syawal hingga imam memulai takbiratul ihram Salat Id.

Salah satu contoh bacaan takbir yang utama (berdasarkan Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 54) adalah:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

2. Berhias dan Memakai Pakaian Terbaik

Idul Fitri adalah waktunya untuk menampakkan kebahagiaan. Berhias bisa dilakukan dengan membersihkan badan, memotong kuku, dan memakai wewangian terbaik.

Sangat disunnahkan memakai pakaian berwarna putih, kecuali jika ada yang lebih bagus (semisal baju baru). Tradisi membeli baju baru saat Lebaran memiliki dasar yang kuat dalam agama sebagai bentuk syiar kebahagiaan.

Bagi perempuan, anjuran berhias ini tetap harus mematuhi syariat, seperti tidak membuka aurat dan tidak berlebihan.

3. Makan Kurma Ganjil Sebelum Salat Idul Fitri

Hari Raya Idul Fitri adalah hari yang diharamkan untuk berpuasa. Sebelum berangkat menunaikan Salat Idul Fitri, Rasulullah SAW memiliki kebiasaan memakan buah kurma dalam jumlah ganjil (tiga, lima, atau tujuh).

Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Ahmad:

"Pada waktu Idul Fitri Rasulullah SAW tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil."

4. Pelaksanaan Salat Idul Fitri

Rasulullah SAW selalu menunaikan Salat Idul Fitri bersama keluarga dan para sahabatnya. Beliau biasanya mengakhirkan pelaksanaan Salat Id (sekitar saat matahari naik setinggi tombak atau 3,36 meter) agar umat Islam memiliki waktu yang cukup untuk menunaikan Zakat Fitrah terlebih dahulu.

Selain itu, Rasulullah SAW senantiasa mengambil rute jalan yang berbeda antara saat berangkat dan pulang dari tempat salat.

5. Mendatangi Tempat Keramaian yang Positif

Bersukacita di hari raya sangat dianjurkan. Suatu ketika saat Idul Fitri, Rasulullah SAW menemani Aisyah RA mendatangi sebuah pertunjukan atraksi tombak dan tameng.

Saking asyiknya, Aisyah sampai menyandarkan kepalanya di atas bahu Rasulullah untuk menyaksikan permainan tersebut dengan puas (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim).

6. Saling Mengunjungi (Silaturahmi)

Tradisi silaturahmi atau saling mengunjungi saat Lebaran sudah ada sejak zaman Nabi. Ketika Idul Fitri tiba, Rasulullah SAW mengunjungi rumah para sahabat, dan begitu pula sebaliknya.

Mereka saling bertemu dan mendoakan kebaikan satu sama lain.

7. Tahniah (Memberi Ucapan Selamat)

Sangat dianjurkan untuk saling memberikan ucapan selamat (Tahniah) atas kebahagiaan di hari raya. detikers bisa mengucapkan "Taqabbala allâhu minnâ wa minkum", "Kullu 'âmin wa antum bi khair", atau "Minal aidin wa al-faizin".

Terkait hukum Tahniah ini, Syekh Abdul Hamid al-Syarwani dalam kitabnya mengutip penjelasan para ulama:

ـ (خَاتِمَةٌ) قَالَ الْقَمُولِيُّ لَمْ أَرَ لِأَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِنَا كَلَامًا فِي التَّهْنِئَةِ بِالْعِيدِ وَالْأَعْوَامِ وَالْأَشْهُرِ كَمَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ لَكِنْ نَقَلَ الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ عَنْ الْحَافِظِ الْمَقْدِسِيَّ أَنَّهُ أَجَابَ عَنْ ذَلِكَ بِأَنَّ النَّاسَ لَمْ يَزَالُوا مُخْتَلِفِينَ فِيهِ وَاَلَّذِي أَرَاهُ مُبَاحٌ لَا سُنَّةَ فِيهِ وَلَا بِدْعَةَ

Artinya: "Sebuah penutup. Al-Qamuli berkata, aku tidak melihat dari para Ashab (ulama Syafi'iyah) berkomentar tentang ucapan selamat hari raya... Pendapatku, hal tersebut hukumnya mubah, tidak Sunah, tidak bid'ah."

Namun, Syihab Ibnu Hajar menegaskan bahwa hal tersebut disyariatkan:

وَأَجَابَ الشِّهَابُ ابْنُ حَجَرٍ بَعْدَ اطِّلَاعِهِ عَلَى ذَلِكَ بِأَنَّهَا مَشْرُوعَةٌ وَاحْتَجَّ لَهُ بِأَنَّ الْبَيْهَقِيَّ عَقَدَ لِذَلِكَ بَابًا فَقَالَ بَابُ مَا رُوِيَ فِي قَوْلِ النَّاسِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ فِي الْعِيدِ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَسَاقَ مَا ذَكَرَهُ مِنْ أَخْبَارٍ وَآثَارٍ ضَعِيفَةٍ لَكِنَّ مَجْمُوعَهَا يُحْتَجُّ بِهِ فِي مِثْلِ ذَلِكَ

Artinya: "Al-Syihab Ibnu Hajar setelah menelaah hal tersebut menjawab bahwa tahniah disyariatkan... Ibnu Hajar menyebutkan statemen al-Baihaqi tentang hadits-hadits dan ucapan para sahabat yang lemah (riwayatnya), akan tetapi rangkaian dalil-dalil tersebut bisa dibuat argumen dalam urusan sejenis tahniah ini."

Demikianlah 7 Sunah Rasulullah SAW yang patut kita hidupkan di Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Semoga informasi ini bermanfaat, ya!

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video Menag Ungkap Aturan Takbiran saat Hari Nyepi di Bali: Tanpa Sound System"
[Gambas:Video 20detik]
(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads