Media sosial tengah diramaikan dengan template story Instagram yang mengimbau orang-orang untuk tidak memeluk atau mencium bayi saat momen Lebaran. Imbauan tersebut bertujuan melindungi bayi dari risiko penularan penyakit seperti campak dan influenza.
Praktisi kesehatan dr Anton D Saputra, SpA, AIFO-K menilai tren tersebut cukup efektif untuk membantu menekan penyebaran campak. Pasalnya, penyakit ini dikenal sangat mudah menular.
"Khusus untuk campak, kenapa infeksius banget? Campak itu nularin bahkan 4 hari sebelum ruamnya muncul. Kita ada namanya fase prodromal, jadi sebelum muncul ruam di badan, dia bisa 2-3 hari sebelumnya baru mulai demam," kata dr Anton dilansir detikHealth, Senin (16/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada fase awal tersebut, penderita biasanya mengalami beberapa gejala khas.
"Ada 3C namanya: cough, coryza, conjunctivitis. Matanya merah, batuk, pilek ada 3 itu," sambungnya.
dr Anton menjelaskan bahwa pada satu hingga dua hari pertama, penderita campak, termasuk balita, sudah dapat menularkan virus kepada orang lain. Hal ini bisa terjadi meskipun kondisi pasien terlihat baik-baik saja.
Ia menambahkan bahwa campak sebenarnya merupakan penyakit lama yang sudah memiliki vaksin. Namun, selama masa pandemi angka imunisasi sempat menurun, ditambah dengan semakin maraknya gerakan anti-vaksin.
"Campak itu penyakit yang sudah lama ada, dan sudah ada vaksinnya. Cuman kita kecolongan pada saat pandemi, angka imunisasi menurun, sekarang anti-vaksin juga makin gencar," katanya.
Selain campak, kebiasaan mencium, memeluk, atau menggendong bayi juga berpotensi menularkan penyakit lain yang menyebar melalui droplet.
"Batuk pilek kan kita nggak tahu nih, apakah kita bersih atau nggak kan," tutupnya.
(nkm/nkm)











































