Ini Penyebab Sering Lemas dan Kembung saat Naik Pesawat

Ini Penyebab Sering Lemas dan Kembung saat Naik Pesawat

Nyimas Amrina Rosida - detikSumut
Rabu, 11 Mar 2026 06:29 WIB
Ilustrasi jendela pesawat
Foto: Getty Images/Farknot_Architect
Medan -

Pernahkah Anda merasa energi tiba-tiba terkuras atau perut terasa begah saat berada di atas awan? Keluhan lemas dan kembung merupakan fenomena yang sangat umum dirasakan penumpang, khususnya dalam penerbangan berdurasi panjang. Kondisi ini biasanya muncul setelah tubuh berada beberapa saat di dalam kabin.

Rasa tidak bertenaga dan ketidaknyamanan pencernaan ini bukanlah tanpa alasan. Tubuh kita sebenarnya sedang bereaksi terhadap perubahan lingkungan yang drastis, mulai dari fluktuasi tekanan udara, pergeseran jadwal harian, hingga pola konsumsi yang berubah total.

Apa itu Kelesuan di Udara?

Dilansir detikTravel dari CNNIndonesia, Selasa (10/3/2026), fenomena ini disebut sebagai kelesuan di udara. Istilah ini mendeskripsikan kondisi saat tubuh mendadak lunglai yang disertai gejala bloating (kembung). Secara fisiologis, ini adalah bentuk adaptasi tubuh terhadap situasi ekstrem di dalam pesawat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asimah Hanif, seorang Dokter Umum NHS dan ahli medis di Staysure, menyoroti bahwa perubahan jadwal yang tiba-tiba memberikan "efek kejut" bagi sistem internal kita. Tubuh menjadi bingung dalam menafsirkan aktivitas yang sedang berlangsung.

"Ketika penerbangan, kita keluar dari rutinitas biasanya. Ini mengganggu apa yang biasa dilakukan oleh tubuh kita," kata Asimah dikutip CNN Indonesia dari Indy100.

ADVERTISEMENT

Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah pergeseran jam makan. Misalnya, seseorang yang biasa sarapan di pagi hari terpaksa makan di dini hari karena jadwal penerbangan. Hal inilah yang memicu gangguan pencernaan.

"Dampak dari berubahnya jam makan dan menu yang tidak biasa, dapat mengganggu pencernaan dan menyebabkan kelesuan," ujar Asimah.

Senada dengan hal tersebut, Mark Austin yang merupakan Spesialis Gastroenterologi di Nuffield Health Haywards Heath Hospital, menjelaskan bahwa terbang pada waktu yang tidak lazim (terlalu pagi atau terlalu malam) mengganggu cara kerja alami tubuh.

"Kondisi seperti ini bisa melepaskan hormon stres dan membuat tidak nafsu makan, kembung, dan tidak nyaman," jelas Austin.

Selain masalah waktu, kondisi fisik kabin sendiri turut memperparah keadaan. Tekanan udara yang rendah di ketinggian serta minimnya kelembapan dapat memicu dehidrasi ringan dan penurunan kadar oksigen dalam darah, yang secara langsung menguras energi.

"Ketika terbang di ketinggian, tekanan kabin udara akan berubah dan kadar oksigen menjadi lebih rendah. Ini dapat mempengaruhi pencernaan dan menghabiskan energi atau membuat lesu," tambahnya.

Artikel ini sudah tayang di detikTravel, baca selengkapnya di sini.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads