Setiap manusia lahir dengan perbedaan nasib, ada yang lahir miskin, cacat, yatim, hingga lingkungan yang buruk dan ada yang lain hidup serba mudah. Lantas bagaimana memahami keadilan Allah SWT itu sempurna?
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Prof Muhammad Syukri Albani Nasution mengatakan jika pertanyaan tersebut sudah masuk dalam ranah tauhid. Allah SWT disebut menilai seseorang itu dengan cara berbeda-beda.
"Saya mau bilang begini, nanti pada akhirnya secara probabilitas memang cara Allah menilai kita bisa beda-beda. Contohnya begini si A tidak banyak sedekahnya karena duitnya tidak banyak, maka berapapun sedekahnya itu bisa lebih tinggi dari seorang milioner yang sedekahnya normal-normal aja," kata Prof Muhammad Syukri Albani Nasution dalam Program Kultum Ramadan, Rabu (4/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi alat ukurnya sebenarnya ada di Allah, maka Allah sebut dalam Al-Imran ayat 27 itu, 'Aku bisa kasih rezeki kepada siapapun, tanpa hitung-hitungan tanpa putus-putus," imbuhnya.
Baca juga: Apa Hukumnya Bukber? Begini Penjelasan Ustaz |
Prof Syukri Albani menilai jika membandingkan hidup kita dengan orang lain bukan sesuatu yang tepat. Sebab, alat ukur setiap orang berbeda-beda.
"Saya hanya mau bilang begini, jangan pernah benturkan dan bandingkan diri kita dengan hidup orang lain, setiap orang punya ritmenya masing-masing, alat ukurnya juga berbeda-beda, jika kau berbuat baik, baik feedback nya sama engkau, jika engkau berbuat jahat juga begitu," ujarnya.
Ada orang yang hidupnya enak dan banyak duit padahal ia hanya bersantai. Ada juga yang bekerja keras, namun hasilnya sedikit. Sehingga Prof Syukri Albani menegaskan bahwa Allah SWT yang akan menghisab itu.
"Oleh karena itu, saran saya sih sederhana saja, ada orang yang enak hidupnya ongkang-ongkang kaki duit banyak, kita kerja bertungkus lumus tapi hasilnya tidak seberapa. Saya mau kasih tahu begini, nilai akhirnya secara futuristik ada di Allah, Allah yang menghisab, dunia ini memang alat ukurnya selalu benturan, ini orang kaya ini orang miskin," ucapnya.
Sehingga Prof Syukri Albani mengajak detikers untuk taat di manapun berjalan dalam kehidupan ini. Allah SWT Maha Mengetahui sesuatu baik tersurat maupun tersirat.
"Ayo bismillah, alat ukurnya adalah anda taat, dimana pun kemampuan anda untuk berjalan dalam hidup ini lakukan, bahwa kemampuan anda beda dengan orang lain itu sebuah keniscayaan, tapi ingat ikhlas dalam segala amal, mudah-mudahan itu menjadi potensi memperbaiki nilai kita di hadapan Allah, jangan pernah pesimis karena Allah Maha Mengetahui baik yang tersurat maupun tersirat," tuturnya.
(niz/mjy)











































