Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengajukan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) sebesar Rp 181 triliun ke DPR. Ada banyak program yang akan dijalankan dengan tambahan alokasi anggaran tersebut, tapi bukan untuk program makan bergizi gratis (MBG).
"Kami sudah paparan di DPR soal ABT ini. Kami dalam posisi menunggu keputusan (DPR)," ujarnya dikutip detikNews, Rabu (4/3/2026).
Selanjutnya Sekretaris Umum PP Muhammadiyah itu merinci program yang akan dijalankan dengan penambahan anggaran tersebut. Pertama, revitalisasi satuan Pendidikan yang kondisi rusak dan cukup memprihatinkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mengajukan tambahan anggaran untuk revitalisasi 20 ribu Satuan Pendidikan," tuturnya.
Abdul Mu'ti menyebut program kedua yakni Digitalisasi Pendidikan. Dengan mempertimbangkan perintah Presiden Prabowo Subianto, saat ini setiap Satuan Pendidikan akan mendapat tambahan alokasi IFP (Interaktif Flat Panel) atau PID (Panel Interaktif Digital). Rencananya di tahun 2026 ini Kemendikdasmen akan mendistribusikan IFP untuk lebih dari 325 ribu Satuan Pendidikan.
"Untuk digitalisasi itu kita akan bagikan 3 IFP per satuan Pendidikan," ujarnya.
Program lain yang sudah disetujui DPR adalah program beasiswa untuk guru yang belum meraih jenjang pendidikan Diploma 4 (D4) atau Strata 1 (S1). Dengan program ini, para guru itu akan mendapatkan beasiswa sebesar 3 juta per semester.
"Beasiswa ini akan diberikan untuk 150 ribu orang guru se Indonesia," kata Mu'ti.
Guru honorer juga mendapatkan perhatian dari pemerintah. Dalam usulan ABT yang telah diajukan oleh Kemendikdasmen ke DPR itu, guru honorer akan mendapatkan tambahan insentif. "Insentif untuk guru honorer akan dinaikkan, dari Rp 300 ribu menjadi Rp 400 ribu," ujar Mu'ti.
Sementara itu, dalam paparannya, Mu'ti mengatakan bahwa MBG merupakan bagian tak terpisahkan dari program kementeriannya.
"Terutama yang berkaitan dengan program 7 Kebiasaan Indonesia Hebat, yaitu bangun pagi, beribadah, berolah raga, makan sehat bergizi, rajin belajar, bermasyarakat dan tidur cepat," ujarnya.
MBG juga merupakan bagian dari program Pendidikan karakter yang merupakan program Prioritas Presiden dan juga Program Prioritas Kementerian Dikdasmen, yang terdiri atas penanaman nilai-nilai spiritual, sosial, tertib, disiplin, bertanggung jawab, kepemimpinan, budaya bersih, tata krama, dan sebagainya. "Jadi MBG memiliki kaitan yang sangat langsung dengan program Kementerian Dikdasmen," katanya.
Mu'ti lalu mengungkapkan, bahwa menurut laporan terakhir Sekjen Kemendikdasmen, penerima MBG saat ini adalah sebanyak 49.614.433 siswa, dari total 53.394.088 siswa sekolah, atau telah mencapai 93 persen dari total siswa di seluruh Indonesia. Yang belum menerima 3.780.445 siswa.
Sementara, sekolah yang sudah menerima sebanyak 288.845 dari total 434.812 Satuan Pendidikan, atau 66,5 persen dari sekolah di Indonesia. "Jadi capaiannya sudah sangat tinggi," katanya.
Kemendikdasmen telah mendapatkan temuan menarik tentang kontribusi program MBG terhadap pendidikan karakter dan motivasi belajar siswa. Dari kerja sama penelitian dengan Lab Sosio Universitas Indonesia ditemukan bahwa Program MBG membantu murid untuk mendapatkan pangan bergizi, khususnya kelompok sosio ekonomi rendah.
MBG juga memberikan pengalaman yang menyenangkan dari produk maupun makan bersama dan lebih semangat dalam belajar. Sementara itu, MBG juga sangat disukai dan dirasakan manfaatnya oleh murid.
"Karena itu program ini diharapkan berkelanjutan dan ditingkatkan kualitasnya," kata Mu'ti.
Simak Video "Video: Digitalisasi Pendidikan, Satu Sekolah Dapat 3 IFP di 2026"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)











































