Jongkong menjadi salah satu primadona takjil saat Ramadan tahun ini. Makanan tradisional yang dikenal juga sebagai kue bongko ini nyatanya banyak dicari masyarakat di Medan.
Ade, seorang penjual jongkong yang mewarisi usaha dari orang tuanya, mengatakan ia mulai menjajakan makanan ini sejak usia sekitar 7 tahun. Ade menyebut jongkong merupakan kuliner khas Tapsel, namun ada juga yang menyebutnya berasal dari Mandailing Natal.
"Sebenarnya namanya kue bongko, tapi sekarang orang lebih sering menyebutnya jongkong," ujar Ade, Senin (2/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses pembuatan jongkong dimulai dari tepung beras yang diolah menjadi adonan mirip bubur sumsum, dicampur gula merah dan santan. Adonan kemudian dibungkus daun pisang sebelum dikukus hingga matang.
"Rasanya gurih, asin, manis sekaligus," kata Ade.
Keawetan jongkong bergantung pada proses memasak santan. Jika santan dimasak lebih lama, makanan ini bisa bertahan hingga pukul 12 malam.
Lokasi penjualan jongkong dapat ditemukan di Jalan HM Yamin, depan Masjid Juang 45. Pelanggan datang dari berbagai daerah, seperti Pancur Batu, Marelan, hingga Marendal.
Banyak yang menjadikannya langganan rutin selama Ramadan. Harga jongkong cukup terjangkau, yakni Rp 8.000 per bungkus atau Rp 15.000 untuk dua bungkus. Penjual di lokasi tersebut biasanya menjajakan makanan ini mulai siang hingga waktu berbuka tiba.
Naya, salah seorang pembeli, mengaku pertama kali mencoba jongkong atas rekomendasi teman. Setelah dicicipi, rasanya langsung cocok di lidah sehingga ia kembali membeli untuk menu buka puasa.
"Enak dan bikin kenyang. Teksturnya lembut, cocok sebagai makanan pembuka saat berbuka puasa," tutur Naya.
Jangan lupa untuk mencobanya, ya, detikers!
Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom
(nkm/nkm)











































