Menilik Jejak Sang Naualuh di Masjid Raya Pematangsiantar

Menilik Jejak Sang Naualuh di Masjid Raya Pematangsiantar

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Rabu, 25 Feb 2026 10:05 WIB
Masjid Raya Pematangsiantar. (Instagram MUI Sumut)
Foto: Masjid Raya Pematangsiantar. (Instagram MUI Sumut)
Pematangsiantar -

Di balik sejuknya udara Kota Pematangsiantar, berdiri tegak Masjid Raya sebagai monumen sejarah yang tak lekang oleh zaman. Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid yang terletak di Jalan Masjid ini adalah warisan fisik dari keteguhan iman dan perjuangan melawan kolonialisme di bumi Simalungun.

Amanah dari Tanah Pengasingan

Fondasinya diletakkan di atas tanah wakaf Raja Sang Naualuh Damanik (Raja Siantar ke-XIV) pada tahun 1911. Meski saat itu sang Raja tengah diasingkan Belanda ke Bengkalis karena menolak tunduk pada kekuasaan kolonial, visinya untuk membangun pusat peradaban Islam di Siantar tetap terwujud melalui tangan para tokoh lokal.

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh tiga sosok kunci: Tuan Syah H. Abdul Jabbar Nasution, dr. M. Hamzah Harahap, dan Penghulu Hamzah Daulay. Mereka adalah tokoh-tokoh yang memastikan amanah sang Raja tetap berdiri kokoh meski di bawah pengawasan ketat pemerintah Hindia Belanda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam buku Sejarah Pematang Siantar, sejarawan Jahutar Damanik menggambarkan betapa sakralnya wasiat Sang Raja bagi masyarakat:

"Bagi rakyat Siantar, setiap jengkal tanah yang diwakafkan Sang Naualuh adalah simbol kedaulatan yang tidak bisa dibeli oleh kompeni. Masjid ini dibangun bukan hanya dengan batu dan semen, tapi dengan harga diri sebuah bangsa."

ADVERTISEMENT

Simbol Perlawanan dan Persatuan

Sejarawan Unimed, Erond L. Damanik, M.Si., dalam bukunya Biografi Raja Sang Naualuh Damanik, menegaskan bahwa masjid ini adalah simbol kemenangan spiritual. Keteguhan Sang Naualuh memegang prinsip "Habonaron Do Bona" (Kebenaran adalah Pangkal) menjadi napas bagi syiar Islam yang inklusif di Siantar.

Kaitan emosional antara masjid dan perjuangan kemerdekaan juga ditegaskan dalam catatan Panitia Peringatan Perjuangan Raja Sang Naualuh:

"Masjid Raya ini menjadi saksi bagaimana nilai-nilai keislaman menyatu dengan semangat patriotisme. Para pendirinya, seperti dr. M. Hamzah Harahap, adalah figur yang percaya bahwa masjid harus menjadi pusat pencerahan umat di tengah kegelapan masa penjajahan."

Oase Spiritual di Kota Toleransi

Kini, setiap Ramadhan, Masjid Raya menjadi titik temu berbagai etnis yang menjalankan Tarawih dan Tadarus di bawah pilar-pilar bersejarah. Suara tadarus yang bergema di antara pilar tua membawa ingatan kolektif pada sosok Sang Naualuh yang dermawan dan teguh.

Masjid ini menjadi pengingat abadi bahwa di tanah Pematangsiantar, iman Islam dan perjuangan martabat bangsa pernah bersatu dalam satu saf yang sama. Ia adalah jantung sejarah yang detaknya masih terasa kuat di setiap sujud jemaahnya.

Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom




(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads