Kultum: Malu Jadi Perhiasan Orang Beriman di Era Media Sosial

Cahaya Ramadan

Kultum: Malu Jadi Perhiasan Orang Beriman di Era Media Sosial

Kartika - detikSumut
Minggu, 22 Feb 2026 18:29 WIB
Dekan Fakultas Agama Islam UMSU  Assoc Prof. Dr. Zailani, M.A. (Foto: Kartika Sari/detikSumut).
Foto: Kartika Sari/detikSumut
Medan -

Perbuatan dosa saat ini bukan hanya dapat dilakukan secara langsung namun kini dapat terjadi melalui jejak digital. Nah, perasaan malu dapat menghindarkan seseorang melakukan hal yang mengundang dosa.

"Salah satu dari cabang iman adalah malu. Malu lah yang menyebutkan kita atau yang menyebabkan kita tinggi rendahnya hubungan kita kepada Allah dan baik tidak ya kita di hadapan manusia. Sekarang ini tanpa kita sadari, kita banyak menggunakan media-media teknologi untuk menyampaikan sesuatu, memberikan konten-konten baik yang sifatnya negatif ataupun positif," ungkap Dekan Fakultas Agama Islam UMSU, Zailani, dalam program Kultum Ramadan detikSumut, Minggu (22/2/2026).

Zailani menyebutkan bahwa dengan memberikan ruang malu dapat menjadi 'rem' seseorang saat berniat melakukan hal yang tidak pantas di media sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nah, ketika kita letakkan malu dalam hati kita, maka gunakan media sosial dan konten konten itu jangan sampai menyebabkan kita malu dalam pandangan Allah. Maksudnya bilakonten konten kita itu mengandung maksiat, bila konten-konten itu menjatuhkan harga diri kita, menyebabkan orang lain merasa jijik dengan apa yang mereka lihat dari konten kita," ujarnya.

"Maka jagalah malu karena sesungguhnya malu adalah perhiasan bagi orang-orang yang beriman," sambung Zailani.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, Zailani mengatakan bahwa seseorang akan tidak memiliki beda dengan makhluk lainnya apabila tidak memiliki rasa malu.

"Bila malu ini sudah terlepas dari mahkota keimanan seseorang, maka tidak ada bedanya antara kita dengan makhluk yang lainnya. Menjaga agar kita tetap mempertahankan malu, maka sesungguhnya merasalah kita diawasi oleh Allah SWT, dengan perasaan itu apa pun yang kita isi di dalam konten-konten kita semuanya berhubungan kepada Fastabiqul Khairat, berlomba lombalah dalam kebajikan," tutur Zailani.

Sementara itu, Zailani menyebutkan bahwa seseorang dapat melakukan konten apapun namun harus sesuai batas norma dan etika tanpa membuat diri jauh dari Allah.

"Silahkan berkonten tapi jangan tampakkan sesuatu yang melanggar etika dan adat susila kita baik antar manusia apalagi dalam hubungan kita kepada Allah SWT. Silahkan menyampaikan sesuatu, sampaikanlah sesuatu itu dengan cara yang benar, dengan konten yang benar yang sifatnya ada nilai nilai edukasi baik untuk diri kita dan orang orang yang menontonnya," ucapnya.

"Media teknologi bisa mengantarkan kita kepada Allah SWT dan bisa juga menjauhkan diri dari Allah. Dengan malu, InsyaAllah kita akan tetap berada pada koridor menjadi orang-orang yang baik," pungkas Zailani.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Penghargaan Inovasi Birokrasi untuk Media Sosial DPR RI"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads