Pilihan makanan saat sahur berperan besar dalam menjaga stamina selama berpuasa belasan jam. Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam dari FKUI, Prof Ari Fahrial Syam, menganjurkan masyarakat untuk menyantap menu sahur yang diolah dengan cara direbus atau dikukus.
Menurut Prof Ari Fahrial Syam, sajian rebusan memiliki manfaat khusus untuk sistem pencernaan, terlebih ketika tubuh harus bekerja lebih keras menyesuaikan dengan pola makan selama bulan Ramadan.
"Ya tentu akan lebih baik memang mengonsumsi rebusan saat sahur karena baiknya makan yang lebih mudah dicerna," ujar Prof Ari dilansir dari detikHealth, Sabtu (21/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Makanan hasil perebusan umumnya lebih bersahabat bagi lambung karena rendah kandungan lemak trans yang sulit diproses tubuh. Dengan begitu, risiko perut terasa penuh atau tidak nyaman setelah sahur bisa diminimalkan.
Jangan Hanya Karbohidrat
Walau menu rebusan direkomendasikan, dokter spesialis gizi klinik dr Nathania Sutisna SpGK mengingatkan pentingnya memperhatikan keseimbangan nutrisi. Ia menegaskan bahwa sahur tidak sebaiknya hanya berisi satu jenis zat gizi, misalnya karbohidrat saja.
"Jangan juga kita cuma makan ubi kukus, singkong rebus, itu kurang. Karena dia cuma karbohidrat. Jadi misalnya kalau makan ubi ya harus ada telurnya. Telurnya yang direbus, nah itu jauh lebih bagus," jelas dr Nathania Sutisna beberapa waktu lalu.
dr Nathania menekankan penerapan prinsip gizi seimbang dalam satu piring sahur, meski seluruh menu disajikan dalam bentuk rebus atau kukus. Asupan protein, menurutnya, sangat dibutuhkan agar rasa kenyang bertahan lebih lama.
"Untuk rebusan biasanya karbohidrat kaya ubi, singkong, jadi itu pengganti nasi. Kemudian sepertiga piring lain adalah sayur, lalu sepertiga lain adalah lauk pauk biasanya hewani dan nabati, tempe, tahu atau ikan, ayam misalnya," tambahnya.
(nkm/nkm)
