Momen Ramadan tidak hanya menjaga ibadah secara fisik namun juga menjaga hati agar tetap bersih selama menjalankan puasa. Momen ini jadi momen yang tepat untuk membersihkan penyakit hati.
Setiap makhluk hidup secara umum memiliki unsur yang sama, namun yang membedakan adalah qalbun yang dimiliki oleh manusia.
"Di dalam diri manusia itu ada beberapa unsur, salah satu unsur yang diberikan Allah adalah qalbun. Qalbun itu secara makna lughawi maksudnya adalah terbolak-balik, yaitu ada kesempatan di mana kita punya kemampuan dan mau berbuat baik, ada masanya kita kadang-kadang berbuat dosa," ungkap Dekan Fakultas Agama Islam UMSU Zailani dalam program Kultum Ramadan detikSumut, Jumat (20/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zailani menuturkan qalbun menurut Ibnu Qayyim terbagi tiga yakni qalbun salim, yang kedua qalbun maridh, dan yang ketiga qalbun mayyit.
"Qalbun salim adalah qalbun yang selamat yang hatinya selalu terpaut dengan Allah," ujarnya.
Sedangkan qalbun maridh, kata Zailani merupakan penyakit hati yang memiliki perasaan iri, emosi, maupun suka menghibah. Qalbun ini membuat seseorang jauh dari Allah SWT.
"Qalbun maridh yang dia punya penyakit. Di dalamnya ada iri, di dalamnya kita suka mengghibah, di dalamnya kita suka mencaci, di dalamnya kita orang yang sangat emosional," tutur Zailani.
"Segala penyakit yang menjauhkan diri kita kepada Allah SWT maka itu disebut dengan qalbun maridh," lanjutnya.
Namun begitu, detikers dapat menghindari qalbun maridh ini dengan cara kembali kepada qalbun salim. Zailani menyebut rutin beristighfar membuat seseorang akan menghindari niat dan perasaan kotor.
"Langkah yang paling baik untuk menghindari segala macam penyakit yang kita sebutkan tadi oleh Rasulullah pertama kita disuruh Istighfar. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Rasulullah itu sehari istighfar 100 kali. Apalagi kita tidak akan mengulangi perbuatan yang kita lakukan bukannya di saat itu tapi di masa yang akan datang," jelasnya.
Zailani menilai bahwa seseorang yang mengisi hatinya dengan perasangka baik dan rutin beristighfar akan membuat seseorang yang dulunya sempat memiliki penyakit hati menjadi seseorang yang memiliki pribadi yang berakhlak baik.
"Apalagi kita isi hal hal buruk yang sudah kita hilangkan dengan kita isi hal baik, yang dulu kita pamer kini kita tak jadi orang pamer, yang dulunya kita sombong kita menjadi orang yang tawadhu. Hal-hal yang seperti ini bila kita lakukan kita tidak akan mempunyai penyakit hati lagi," pungkasnya.
(nkm/nkm)











































