Menjelang bulan suci Ramadan, suasana desa di Jawa terasa lebih hidup dengan bau masakan khas dan suara orang berdoa. Masyarakat Indonesia mengenal tradisi ini dengan nama Munggahan atau Punggahan.
Meski namanya agak berbeda, keduanya berfungsi sebagai jembatan spiritual dan sosial untuk memperingati bulan suci. Lalu, apa sebenarnya cerita sejarah Punggahan dan mengapa tradisi ini sangat disukai masyarakat? Mari kita menelusuri maknanya lebih dalam.
Apa Itu Munggahan dan Punggahan?
Banyak yang bertanya, apakah Punggahan adalah Munggahan? Jawabannya ya. Keduanya merupakan tradisi yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada wilayah persebarannya. Munggahan adalah istilah yang sering digunakan oleh masyarakat Sunda di wilayah Jawa Barat. Punggahan lebih sering digunakan oleh masyarakat di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan daerah-daerah lain di Jawa secara umum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara etimologi, kata ini berasal dari bahasa Jawa, yaitu "Munggah", yang berarti naik atau masuk ke tempat yang lebih tinggi. Makna Munggahan sebelum puasa adalah tanda bahwa umat Islam sedang mempersiapkan diri untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi, baik dalam hal spiritual maupun keimanan, ketika memasuki bulan Ramadhan.
Sejarah Tradisi Punggahan
Dilansir dari jurnal Tradisi Punggahan M yang diterbitkan menjelang Ramadhan tahun 2020 oleh Salma Al Zahra Ramadhani dan Nor Mohammad Abdoeh. Sejarah tradisi Punggahan tidak terlepas dari peran yang diberikan oleh Sunan Kalijaga. Saat memperkenalkan agama Islam di Nusantara, beliau memakai cara mengakulturasi budaya lokal.
Sunan Kalijaga mengajarkan ajaran Islam ke dalam budaya lokal agar masyarakat bisa menerima Islam dengan lebih mudah tanpa merasa tidak nyaman. Melalui Punggahan, Sunan Kalijaga mengajarkan bahwa bersedekah, menjaga hubungan baik dengan tetangga, dan mendoakan leluhur adalah hal yang penting sebelum memulai puasa selama satu bulan penuh.
Tradisi ini umumnya diadakan di rumah atau masjid dengan mengajak tetangga-tetangga sekitar untuk hadir. Acara utama di Punggahan adalah pembacaan tahlil dan doa bersama yang dipandu oleh guru ngaji atau kiai dari lokasi tersebut.
Ada beberapa hidangan khas yang harus ada sebagai simbol, di antaranya adalah Nasi Kluban dan Tumpeng, yang biasanya disajikan jika acara dilakukan di rumah. Empat Menu Wajib, Apem, Pasung, Gedang Rojo (Pisang Raja), dan Ketan. Keempat menu ini biasanya dibawa saat acara dilakukan di masjid atau musala.
Tujuan utama Munggahan adalah untuk mengingatkan bahwa bulan Ramadhan sudah semakin dekat. Selain itu, manfaatnya adalah untuk memperkuat hubungan kekeluargaan antara warga dan menjadi cara untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal.
Artikel ditulis Dwi Puspa Handayani Berutu, peserta maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: Keren! Masjid di Klaten Sediakan Mobil Golf untuk Jemput Lansia"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)











































