Hukum Mengqadha Puasa Ramadan Bersamaan dengan Puasa Sunnah

Hukum Mengqadha Puasa Ramadan Bersamaan dengan Puasa Sunnah

Siti Asyaroh - detikSumut
Minggu, 15 Feb 2026 20:00 WIB
Ilustrasi puasa
Foto: Ilustrasi. (Freepik)
Medan -

Menuju puasa Ramadan, umat Islam yang masih memiliki utang puasa pada Ramadan lalu wajib untuk menggantinya. Di sisi lain, ada sejumlah puasa sunnah yang juga dianjurkan pelaksanaannya, seperti puasa Syawal, Senin-Kamis, Arafah, maupun Asyura.

Lantas, apakah boleh melaksanakan qadha puasa Ramadan bersamaan dengan puasa sunnah?

Dalam ajaran Islam, puasa Ramadan berstatus sebagai ibadah wajib. Orang yang tidak berpuasa karena alasan yang dibenarkan syariat, seperti sakit, haid, atau sedang bepergian jauh, memiliki kewajiban untuk menggantinya pada hari lain di luar Ramadan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perintah untuk mengganti puasa itu telah ditegaskan Allah Swt. dalam Al-Qur'an, Q.S. Al Baqarah 184:

...فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ...

ADVERTISEMENT

"... maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain...." (QS. Al-Baqarah: 184).

Dikutip dari laman resmi NU Online Jakarta, praktik menyatukan niat puasa wajib dan sunnah masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Perbedaan ini muncul karena tidak ditemukan dalil yang secara tegas mengatur penggabungan dua jenis ibadah tersebut.

Meski demikian, sebagian ulama memperbolehkan penggabungan niat (tasyrik an-niat). Di antaranya sebagaimana dijelaskan oleh Imam As-Suyuti berikut:

صَامَ فِي يَوْمِ عَرَفَة مَثَلًا قَضَاء أَوْ نَذْرًا، أَوْ كَفَّارَة ; وَنَوَى مَعَهُ الصَّوْم عَنْ عَرَفَة، فَأَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِالصِّحَّةِ، وَالْحُصُولِ عَنْهُمَا،

Artinya: Berpuasa di hari Arafah seperti puasa Qadha, Nadzar, atau Kafarat, dan berniat puasa Sunnah Arafah, maka Imam Al-Barizi menyatakan sah dan mendapatkan keduanya. (Imam As-Suyuti, Al-Asbah wa Al-Nadzair, {Beirut, Dar El-Kotob: 1983}, halaman 22).

Pendapat ini turut dijelaskan oleh Imam Ibn Hajar Al-Haitami sebagai berikut:

وَلَوْ صَامَ فِي شَوَّالٍ قَضَاءً أَوْ نَذْرًا أَوْ غَيْرَهُمَا أَوْ فِي نَحْوِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ تَطَوُّعِهَا.

Artinya: Seandainya seseorang berpuasa Qadha, Nadzar atau lainnya di bulan Syawal atau di hari Assyura, maka ia tetap mendapatkan pahala sunnah. (Ibn Hajar Al Haitami, Hawasyi Asy-Syarwani Al-Abadi ala Tufatil Muhtaj bi Syarhil Minhaj, [Cairo, Darul Hadits: 2016 M], juz IV, halaman 457).

Dilansir dari laman resmi bmm.id meski boleh digabung, ada tata cara dalam pelafalan niat agar tidak bathil (tidak sah). Caranya adalah dengan berniat puasa qadha Ramadan esok hari (dalam hati boleh ditambahkan bertepatan hari Senin). Maka, qadha puasa sah, dan sunnahnya juga dapat.

Kemudian, untuk lafal niat gabungan, cara terbaik adalah dengan cukup meniatkan qadha saja.

Niat puasa qadha sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Artinya: Saya berniat mengganti (mengqadha) puasa bulan Ramadhan karena Allah Ta'ala.

Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Masih Ada Sisa Waktu, Ini Puasa Sunnah Menyambut Idul Adha!"
[Gambas:Video 20detik]
(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads