Kenapa 14 Februari Disebut Hari Kasih Sayang? Simak Sejarah Valentine

Kenapa 14 Februari Disebut Hari Kasih Sayang? Simak Sejarah Valentine

Dwi Puspa Handayani Berutu - detikSumut
Jumat, 13 Feb 2026 06:00 WIB
Ilustrasi Valentine.
Foto: Istimewa
Medan -

Tanggal 14 Februari identik dengan cokelat, bunga, dan makan malam bersama yang romantis selalu ditunggu oleh banyak orang di berbagai penjuru dunia. Momen ini dikenal dengan hari Valentine atau hari kasih sayang.

Pernahkah detikers penasaran, sebenarnya hari valentine berasal dari mana dan mengapa akhirnya disebut sebagai hari kasih sayang? Yuk, kita bahas sejarahnya.

Dilansir dari Valentine's Day bagi Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta: dari Sudut Pandang Ekonomi, Sosial dan Religi oleh Iga Rusiyawati dan Siti Fatimah Nurhayati, sebelum menjadi hari romantis yang penuh warna merah muda, valentine diwariskan dari tradisi orang Romawi kuno yang mengikuti agama pagan atau beribadah kepada berhala. Salah satu ritual yang paling terkenal dan menjadi awal dari hari ini adalah Lupercalia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bangsa Romawi percaya pada cerita tentang pendiri Kota Roma, Romulus dan Remus, yang dipelihara oleh seekor serigala betina bernama lupa. Untuk merayakan peristiwa tersebut dan meminta perlindungan dari dewa, mereka selalu mengadakan upacara besar setiap pertengahan bulan Februari.

Ritual ini justru sangat berbeda dari kesan romantis yang kita kenal sekarang. Para pendeta Romawi akan membunuh kambing untuk meningkatkan kesuburan dan memotong anjing untuk proses penyucian. hewan itu kemudian ditempatkan di dahi para pemuda yang kuat. Setelah melakukan ritual mencuci darah dengan susu, para pemuda tersebut lari mengelilingi kota sambil membawa potongan kulit hewan yang telah dikurbankan.

ADVERTISEMENT

Para wanita Romawi pada masa itu sengaja mendekati hewan-hewan tersebut agar bisa bersentuhan dengan kulitnya, karena mereka percaya hal itu akan memberikan berkah keturunan dan membuat proses melahirkan menjadi lebih mudah. Dengan berkembangnya pengaruh agama Kristen di Eropa, tradisi penganut agama pagan mulai bergeser.

Pada tahun 496 M, Paus Gelasius I memutuskan untuk menghentikan ritual Lupercalia dan menyusulnya dalam kalender Gereja Kristen. Langkah ini dilakukan secara terencana agar masyarakat bisa lebih lancar beradaptasi dengan ajaran agama yang baru tanpa harus meninggalkan tradisi lama secara utuh.

Berdasarkan catatan di dalam The Encyclopedia Britania, perayaan ini kemudian diadakan untuk menghormati 3 Santo. Hubungan dari ketiga martir ini dengan hari valentine atau hari kasih sayang sebenarnya tidak jelas namun paus Gelesius I menetapkan pada tanggal 14 Februari sebagai hari raya peringatan santo Valentinus.

Sosok St. Valentine sering dikaitkan dengan cerita misterius yang mengisahkan bagaimana pasangan kekasih diam-diam dijodohkan pada masa pelarangan kawin oleh Kaisar Claudius II, sehingga menjadikannya simbol pembelaan cinta sejati. Sejak saat itu, nama Hari Valentine secara resmi dikenal secara luas sebagai hari perayaan gereja.

Penggunaan istilah Hari Kasih Sayang di zaman sekarang sebenarnya berasal dari campuran antara cerita dari agama gereja dan tren puisi pada masa pertengahan. Para pelindung seperti Geoffrey Chaucer mulai menghubungkan hari Santo Valentine yang tiba bersama musim kawin burung-burung membuat banyak orang menulis surat cinta yang puitis.

Namun, di zaman sekarang, makna valentine sering kali bergeser menjadi fenomena budaya konsumtif. Banyak orang, terutama kalangan remaja, yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi membeli kado, cokelat, hingga paket makan malam mewah. Padahal, jika melihat sejarah aslinya, valentine memiliki latar belakang religi dan budaya luar yang sangat kental.

Artikel ditulis Dwi Puspa Handayani Berutu, peserta magang Kemanaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Fahri soal Sambutan PKS ke PKB: Sudah Akad, Malah Nyanyi Yaa Lal Wathan"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads