Perubahan iklim disebut jadi pemicu naiknya tingkat bencana alam pada beberapa tahun belakangan. Di antaranya banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada penghujung tahun 2025 di Pulau Sumatra.
"Bencana alam yang terjadi akhir tahun lalu di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat disebabkan iklim dunia yang terus memanas serta adanya siklon tropis di sekitar Sumatra," ungkap Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, Selasa (10/2/2026).
Dalam diskusi ilmiah bertajuk Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra di USU, Ardhasena menyampaikan ada 10 badai tropis yang awal tumbuhnya di Laut Banda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut apabila diperluas sedikit ke arah selatan, ada lebih dari 30 siklon tropis yang tercatat tumbuh di sana.
"Wilayah ini sering menjadi titik awal bibit siklon," tuturnya.
Ardhasena membeberkan jika perubaan iklim yang ditandai cuaca ekstrem juga mendorong terjadinya curah hujan ekstrem di Sumatra pada November dan Desember tahun lalu.
Dikatakannya, curah hujan yang ekstrem antara lain disebabkan terjadinya pusaran badai, konvergensi yang membentuk awan secara masif pada wilayah pertemuan angin, dan konveksi (mekanisme perpindahan panas) akibat pemanasan permukaan air laut yang membentuk awan secara masif.
"Hingga Juni tahun ini akan terjadi curah hujan yang tinggi di kawasan Selatan khatulistiwa. Kondisi tersebut, perlu diantisipasi dengan langkah-langkah yang tepat," tuturnya.
Berdasarkan data satelit BMKG, siklon tropis Senyar pada November 2025 lalu, membuat curah hujan sangat tinggi di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Lima lokasi dengan curah hujan tertinggi yaitu Singkil Utara (Aceh) dengan curah hujan 225.0 mm, dan empat wilayah di Sumbar yaitu Limau Purut 182.0 mm, Ulakan Tapakis 177.0 mm, Staklim Padang Pariaman 167.5 mm, dan Tambang Semen Padang 145.0 mm.
"Tiga wilayah di Kabupaten Langkat Sumatra Utara yaitu Gebang, Cempa, dan Secanggang juga mencatat curah hujan yang sangat tinggi pada akhir November tahun lalu," ujar Ardhasena.
Lebih lanjut, Ardhasena menyebut curah hujan normal adalah 474 mm. Namun curah hujan pada November 2025 mencapai 1356 mm.
Dan curah hujan saat terjadi bencana adalah tiga kali dari curah hujan pada November 2025.
"Perubahan iklim adalah perubahan signifikan dalam pola cuaca global atau regional yang terjadi dalam jangka waktu panjang, biasanya puluhan tahun hingga berabad-abad. Dan tahun 2025 adalah tahun terpanas ketiga dalam pencatatan suhu bumi," jelasnya.
Sementara itu, Ardhasena menyebut peristiwa cuaca ekstrem berpotensi semakin sering terjadi pada tahun-tahun berikutnya.
"Curah hujan lebih dari 250 mm yang memiliki periode ulang 100 tahun pada periode saat ini, pada masa depan menjadi semakin sering karena memiliki periode ulang yang lebih pendek menjadi di bawah 20 puluh tahun saja," kata Ardhasena.
"Jadi, perubahan iklim global di mana suhu bumi semakin memanas, adalah penyebab utama terjadi bencana seperti hujan ekstrem sehingga memicu tanah longsor," sambungnya.
Ekofisiologis Tak Sesuai Picu Bencana Alam
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian USU Abdul Rauf menilai bahwa Bencana alam banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat akhir tahun lalu terjadi akibat tata kelola lahan yang tidak memperhatikan aspek ekofisiologi tanaman.
Padahal, risiko kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim bisa diminimalisir jika tata kelola lahan, baik untuk tanaman hutan maupun perkebunan, memperhatikan aspek interaksi antara fungsi fisiologis dengan kondisi lingkungan fisik.
"Interaksi antara fungsi fisiologis tanaman dengan kondisi lingkungan fisiknya tertuang dalam kriteria kelas kesesuaian lahan, baik di lahan mineral, maupun di lahan gambut," tutur Rauf.
Baca juga: Bencana Bikin Ekonomi Aceh Minus 1,6% |
Rauf mengatakan bahwa tanaman apapun jika ditanam pada lahan yang tidak sesuai untuk pertumbuhannya atau ekofisiologinya tidak sesuai akan merusak lingkungan.
"Yang bisa disalahkan bukan tanamannya. Tetapi ekofisiologisnya sudah sesuai atau tidak? Nah ketika tidak ada kesesuaian inilah, kerusakan lingkungan terjadi. Ketidaksesuaian ekofisiologis itu bisa terjadi akibat aktivitas usaha ilegal seperti illegal logging, illegal planting, dan illegal mining," jelasnya.
"Kalau yang disalahkan sebagai penyebab bencana adalah perkebunan kelapa sawit, tidak tepat. Misalnya di Sumatra Utara, perkebunan kelapa sawit sudah ada sejak 1911. Dan pada 1938, luas perkebunan kelapa sawit di Sumatra sudah mencapai 90 ribu hektat," lanjut Rauf.
Rauf menilai bahwa tanaman kelapa sawit banyak memiliki karakteristik yang justru baik bagi kelestarian lingkungan.
"Kebun sawit memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air signifikan. Setiap pohon dewasa mampu menyerap hingga 10 liter air per hari. Kebun sawit dewasa mampu menyerap air hujan rerata setara 43.500 liter per hari. Kebun sawit yang dikelola dengan baik pada kelas lahan yang sesuai dapat berperan dalam mengkonservasi tanah dan air," ucapnya.
Simak Video "Video BMKG-Wamen PU Bahas Ancaman Perubahan Iklim Terhadap Infrastruktur RI"
[Gambas:Video 20detik]
(ksr/mjy)











































