Dikutip dari Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatera),kidu-kidu merupakan hidangan tradisional berbahan dasar ulat sagu yang menjadi bagian dari warisan kuliner masyarakat Karo.
Kidu-kidu telah dikenal secara turun-temurun dan kerap dijumpai di sejumlah desa di wilayah Karo. Ulat sagu yang digunakan biasanya diambil dari batang pohon enau atau sagu yang telah membusuk secara alami.
Bagi masyarakat setempat, bahan ini bukan sesuatu yang asing, melainkan sumber pangan tradisional yang kaya gizi dan mudah diperoleh dari alam sekitar. Buat detikers yang tertarik untuk mencoba hidangan khas Karo yang unik ini, berikut akan detikSumut rangkum bahan dan cara memasaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahan-Bahan Memasak Kidu-Kidu:
β’ 250 gram kidu-kidu (ulat sagu segar)
β’ 5 siung bawang merah
β’ 3 siung bawang putih
β’ 5 buah cabai merah (sesuai selera)
β’ 2 batang serai, memarkan
β’ 2 lembar daun jeruk
β’ 1 ruas lengkuas, memarkan
β’ Andaliman secukupnya
β’ Garam secukupnya
β’ Minyak goreng secukupnya
β’ (Opsional) santan kental secukupnya
Cara Memasak Kidu-Kidu:
1. Membersihkan kidu-kidu
Cuci ulat sagu dengan air bersih beberapa kali hingga kotoran benar-benar hilang. Setelah itu, rendam sebentar dengan air garam, lalu bilas kembali dan tiriskan.
2. Menyiapkan bumbu
Haluskan bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan andaliman hingga lembut.
3.Menumis bumbu
Panaskan minyak di wajan, tumis bumbu halus hingga harum. Masukkan serai, daun jeruk, dan lengkuas, lalu aduk hingga bumbu matang.
4.Memasak kidu-kidu
Masukkan kidu-kidu ke dalam tumisan bumbu. Aduk perlahan hingga ulat berubah warna dan matang merata.
5.Penambahan rasa
Tambahkan garam secukupnya. Jika ingin cita rasa lebih gurih, tuangkan santan secukupnya dan masak dengan api kecil hingga bumbu meresap dan kuah mengental.
6.Penyajian
Angkat dan sajikan kidu-kidu selagi hangat. Hidangan ini biasanya disantap bersama nasi putih hangat atau nasi jagung khas Karo.
Dilansir dari website resmi Warisan Budaya Takbenda Indonesia, bahwa selain keunikan rasanya, kidu-kidu juga dikenal memiliki kandungan gizi yang tinggi. Ulat sagu dipercaya kaya akan protein dan lemak alami yang bermanfaat sebagai sumber energi. Oleh karena itu, makanan ini sering dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan, khususnya saat bekerja di ladang atau dalam kegiatan adat yang membutuhkan tenaga ekstra.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Karo, kidu-kidu tidak sekadar menjadi makanan sehari-hari. Hidangan ini kerap disajikan dalam acara adat, pesta keluarga, serta momen kebersamaan sebagai simbol kedekatan dengan alam dan leluhur. Keberadaan kidu-kidu mencerminkan cara masyarakat Karo memanfaatkan sumber daya alam secara bijak dan berkelanjutan.
