Tren nail art kini semakin digemari oleh kalangan muslimah. Pada dasarnya, perempuan memiliki naluri menyukai keindahan dan penampilan yang menarik. Salah satu bentuk ekspresi tersebut adalah dengan mempercantik kuku.
Tradisi menghias kuku sebenarnya bukan hal baru. Sejak dahulu, perempuan telah menggunakan bahan alami seperti inai atau daun pacar. Seiring kemajuan zaman, penggunaan cat kuku dan kuteks dari industri kecantikan pun semakin meluas.
Dari perkembangan tersebut, nail art hadir dengan berbagai pilihan warna dan motif yang membuat tampilan kuku semakin estetik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana pandangan Islam terkait penggunaan nail art, khususnya jika dikaitkan dengan keabsahan wudhu dan salat? Berikut penjelasannya.
Hukum Memakai Nail Art dalam Islam
Dilansir detikHikmah dari buku Fikih Wanita: Empat Mazhab karya Dr. Muhammad Utsman Al-Khasyt, dijelaskan memakain pewarna kuku hingga permukaan kuku tertutup rapat dan menghalangi air dapat membuat wudhu dan mandi wajib menjadi tidak sah. Pasalnya, syarat sah bersuci adalah air tidak terhalang untuk membasahi anggota tubuh yang wajib dibasuh.
Namun jika pewarna kuku tidak menghalangi air membasahi kuku maka hukumnya mubah atau diperbolehkan. Bahkan, Rasulullah SAW menganjurkan para istri untuk mewarnai tangan dan kuku dengan inai agar terlihat berbeda dari tangan laki-laki.
Imam Abu Dawud dan Imam Nasa'i meriwayatkan sebuah hadits dari Aisyah RA tentang seorang perempuan yang memberi isyarat dari balik tabir kepada Rasulullah SAW dengan tangannya yang bertuliskan sesuatu.
Rasulullah SAW tidak serta-merta mengulurkan tangan dan bersabda, "Aku tidak tahu, ini tangan perempuan atau laki-laki." Perempuan itu menjawab, "Ini tangan perempuan." Beliau kemudian bersabda, "Jika engkau benar seorang perempuan, tentu engkau akan mewarnai tanganmu (dengan inai)."
Ketentuan Memakai Nail Art agar Wudhu dan Salat Tetap Sah
Selain itu, dalam buku Tanya Jawab Seputar Fikih Wanita Empat Mazhab karya A. R. Shohibul Ulum dijelaskan bahwa penggunaan cat kuku atau nail art pada dasarnya bertujuan untuk memperindah diri dan tidak termasuk ciri khas wanita nonmuslim. Oleh karena itu, nail art diperbolehkan bagi muslimah dengan catatan digunakan saat sedang haid atau nifas.
Hal ini disebabkan karena cat kuku dapat menutup permukaan kuku sehingga air tidak dapat menyentuhnya saat bersuci. Padahal, dalam wudhu dan mandi wajib, air harus mengenai anggota tubuh yang wajib dibasuh. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 6,
ΩΩ°ΩΨ§ΩΩΩΩΩΩΨ§ Ψ§ΩΩΩΨ°ΩΩΩΩΩ Ψ§Ω°Ω
ΩΩΩΩΩΩΨ§ Ψ§ΩΨ°ΩΨ§ ΩΩΩ
ΩΨͺΩΩ
Ω Ψ§ΩΩΩΩ Ψ§ΩΨ΅ΩΩΩΩ°ΩΨ©Ω ΩΩΨ§ΨΊΩΨ³ΩΩΩΩΩΨ§ ΩΩΨ¬ΩΩΩΩΩΩΩΩ
Ω ΩΩΨ§ΩΩΩΨ―ΩΩΩΩΩΩ
Ω Ψ§ΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩ
ΩΨ±ΩΨ§ΩΩΩΩ ΩΩΨ§Ω
ΩΨ³ΩΨΩΩΩΨ§ Ψ¨ΩΨ±ΩΨ‘ΩΩΩΨ³ΩΩΩΩ
Ω ΩΩΨ§ΩΨ±ΩΨ¬ΩΩΩΩΩΩ
Ω Ψ§ΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩΨΉΩΨ¨ΩΩΩΩΩΫ ΩΩΨ§ΩΩΩ ΩΩΩΩΨͺΩΩ
Ω Ψ¬ΩΩΩΨ¨ΩΨ§ ΩΩΨ§Ψ·ΩΩΩΩΩΨ±ΩΩΩΨ§Ϋ ΩΩΨ§ΩΩΩ ΩΩΩΩΨͺΩΩ
Ω Ω
ΩΩΨ±ΩΨΆΩ°ΩΩ Ψ§ΩΩΩ ΨΉΩΩΩ°Ω Ψ³ΩΩΩΨ±Ω Ψ§ΩΩΩ Ψ¬ΩΨ§Ϋ€Ψ‘Ω Ψ§ΩΨΩΨ―Ω Ω
ΩΩΩΩΩΩΩ
Ω Ω
ΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΨΊΩΨ§Ϋ€ΩΩΩΨ·Ω Ψ§ΩΩΩ ΩΩ°Ω
ΩΨ³ΩΨͺΩΩ
Ω Ψ§ΩΩΩΩΨ³ΩΨ§Ϋ€Ψ‘Ω ΩΩΩΩΩ
Ω ΨͺΩΨ¬ΩΨ―ΩΩΩΨ§ Ω
ΩΨ§Ϋ€Ψ‘Ω ΩΩΨͺΩΩΩΩ
ΩΩΩ
ΩΩΩΨ§ Ψ΅ΩΨΉΩΩΩΨ―ΩΨ§ Ψ·ΩΩΩΩΨ¨ΩΨ§ ΩΩΨ§Ω
ΩΨ³ΩΨΩΩΩΨ§ Ψ¨ΩΩΩΨ¬ΩΩΩΩΩΩΩΩ
Ω ΩΩΨ§ΩΩΩΨ―ΩΩΩΩΩΩ
Ω Ω
ΩΩΩΩΩΩ ΫΩ
ΩΨ§ ΩΩΨ±ΩΩΩΨ―Ω Ψ§ΩΩΩΩ°ΩΩ ΩΩΩΩΨ¬ΩΨΉΩΩΩ ΨΉΩΩΩΩΩΩΩΩ
Ω Ω
ΩΩΩΩ ΨΩΨ±ΩΨ¬Ω ΩΩΩΩΩ°ΩΩΩΩ ΩΩΩΨ±ΩΩΩΨ―Ω ΩΩΩΩΨ·ΩΩΩΩΨ±ΩΩΩΩ
Ω ΩΩΩΩΩΩΨͺΩΩ
ΩΩ ΩΩΨΉΩΩ
ΩΨͺΩΩΩ ΨΉΩΩΩΩΩΩΩΩ
Ω ΩΩΨΉΩΩΩΩΩΩΩ
Ω ΨͺΩΨ΄ΩΩΩΨ±ΩΩΩΩΩ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah. Jika kamu sakit, dalam perjalanan, kembali dari tempat buang air (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu tidak memperoleh air, bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur."
Apabila wudhu tidak sah, maka salat yang dikerjakan pun menjadi tidak sah. Namun, hal ini dapat diantisipasi dengan berwudhu terlebih dahulu sebelum memakai cat kuku.
Dengan cara tersebut, salat tetap dapat dilaksanakan. Akan tetapi, ketika wudhu batal dan hendak salat kembali, cat kuku atau nail art harus dihilangkan terlebih dahulu, kemudian berwudhu ulang.
Artikel ini telah terbit di detikHikmah dengan judul: Hukum Memakai Nail Art dalam Islam, Bolehkah? |
(nkm/nkm)











































