Sikap narsis kerap dikaitkan dengan kepribadian individu, namun sejumlah riset menunjukkan bahwa kecenderungan ini juga dapat terlihat pada tingkat nasional. Beberapa negara disebut memiliki tingkat narsisme lebih tinggi berdasarkan pola perilaku, budaya, dan hasil penelitian psikologi sosial.
Riset tersebut menilai berbagai indikator, mulai dari cara masyarakat memandang diri sendiri hingga bagaimana citra nasional dibangun dan dipromosikan. Lantas, negara mana saja yang masuk dalam deretan paling narsis di dunia?
Dikutip detikEdu, Studi dari Macy M. Miscikowski dari Departemen Psikologi Michigan State University, Amerika Serikat yang dipublikasikan di platform Taylor & Francis Online, 4 Desember 2025, menemukan bahwa Jerman menempati posisi teratas sebagai negara dengan tingkat narsisisme tertinggi di dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Survei ini melibatkan 45.000 orang dari 53 negara menunjukkan bahwa selain Jerman, lima negara dengan warga paling narsis adalah Irak, China, Nepal, dan Korea Selatan. Sementara itu, Serbia, Irlandia, Inggris, Belanda, dan Denmark menempati peringkat terendah, dan Amerika Serikat berada di peringkat 16.
Faktor yang Mempengaruhi Narsisisme
Riset ini juga menemukan pola narsisisme yang berbeda berdasarkan usia, gender, dan status sosial. Orang muda cenderung lebih narsis, mungkin karena mereka sedang membangun identitas, mencari kemandirian, dan bersaing untuk status.
Pria lebih mungkin memiliki sifat narsis dibanding wanita, dan orang dengan status sosial lebih tinggi cenderung lebih narsis, baik karena mereka mengejar posisi lebih tinggi maupun karena merasa berhak mendapatkan lebih banyak penghargaan.
Selain faktor usia, gender, dan status sosial, para peneliti membagi narsisisme menjadi dua tipe untuk analisis lebih rinci yakni admiration (memamerkan prestasi atau kelebihan diri) dan rivalry (bersaing atau merendahkan orang lain).
Narsisisme tipe admiration paling tinggi ditemukan di Nigeria, Irak, China, Nepal, dan Turki, sedangkan terendah ada di Norwegia, Denmark, Irlandia, Rusia, dan Inggris.
Sementara itu, tipe rivalry tertinggi muncul di Jerman, Korea Selatan, Nepal, Irak, dan Rumania, dan terendah di Serbia, Meksiko, Kolombia, Austria, dan Afrika Selatan.
Menariknya, negara-negara yang lebih menekankan kolektivitas justru menunjukkan tingkat narsisisme admiration yang lebih tinggi. Temuan ini menantang anggapan bahwa narsisisme hanya muncul di budaya individualistis.
Negara paling kolektivis dalam studi ini termasuk Senegal, Bangladesh, Maroo, Nepal, dan Irak, sedangkan yang paling individualistis adalah Swedia, Denmark, Jerman, Norwegia, dan Finlandia.
Riset ini menunjukkan bahwa narsisisme bukan fenomena yang terbatas pada satu negara, satu generasi, atau satu tipe orang. Pola narsisisme muncul di mana-mana, seringkali dapat diprediksi, dan muncul karena alasan yang bisa dimengerti seperti konteks sosial, budaya, dan status individu.
(astj/astj)











































