Film A thousand Midnights in Kesawan Bawa Penonton Nostalgia

Kartika Sari - detikSumut
Minggu, 31 Jul 2022 16:51 WIB
Suasana launching film A Thousand Midnights in Kesawan
Foto: Kartika Sari/detikSumut
Medan -

Sineas lokal Medan kembali unjuk gigi dengan merilis film A thousand Midnights in Kesawan. Film ini launching di Cinepolis Plaza Medan Fair yang dihadiri puluhan penonton.

Disutradarai oleh Djenni Buteto, Film ini mengambil banyak lokasi shooting di bangunan bersejarah kota Medan, khususnya di Kesawan seperti Tjong A Fie, Lonsum, Sekitaran Lapangan Merdeka, Pasar Ikan, Titi Gantung, hingga Istana Maimun.

"Situs heritage Kesawan ini sangat potensial sekali dibuat jadi setting film. Kalau siang itu Kesawan menjadi pusat Bisnis yang sibuk sekali, tapi ketika malam di atas jam 12, kita seperti masuk ke dimensi lain yang berbeda ketika siang. Itu yang melatarbelakangi kita untuk membuat Kesawan sebagai setting lokasi," ungkap Sutradara Film A thousand Midnights in Kesawan Djenni Buteto atau Diana Saragih.


Dalam film A thousand Midnights in Kesawan ini, Diana ini film ini sebagai bentuk pengenalan secara visual sejarah yang jarang diketahui generasi muda.

"Kemudian ada misi juga, Kesawan itu peninggalan kolonial Belanda yang perlu dikonservasi. Tapi banyak yang tidak tahu Kesawan itu seperti apa ceritanya di masa lalu. Di sekolah itu tidak ada sejarah lokal yang dipelajari. Sehingga kita sendiri suka tidak tahu identitas sejarah misalnya Jalan H Maulana Lubis atau Brigdjen Bejo yang itu adalah pejuang Medan," tuturnya.

"Kita kehilangan literasinya, narasi tentang sejarah itu hilang. Nah ini salah satu upaya kami sebagai media pembelajaran sejarah tapi dikemas dalam bentuk audio visual," lanjutnya.

Tak hanya memberikan visual dan literasi mengenai heritage Medan, namun juga film ini juga memberikan 'kritik' kepada pihak-pihak terkait baik swasta maupun pemerintah agar tidak lagi terjadi gaya kolonialisme yang dibawa ke zaman demokrasi saat ini.

"Jadi kita mengingatkan itu bahwa di zaman itu ada kerja paksa dan kerja kontrak yang tidak manusiawi dan layak untuk pekerja. Kita mengingatkan bahwa Hal seperti ini tidak perlu terulang lagi. Mulai dari jam kerja yang melebihi ketentuan, lembur yang tidak dibayar, intervensi atau tekanan sosial Dan psikologi yang membuat pekerja tidak nyaman bekerja. Ini produk milenial," jelas Diana.

Film yang berbalut sejarah lokal ini tambah menarik dengan hadirnya dua pemeran utama yaitu Lorencia Adela Putri dan Rudy Syarif yang berperan sebagai arwah. Dua pemeran ini berhasil memanjakan mata penonton dengan berkeliling kota Medan dan juga diselipkan suasana romantis.

Lorencia Adela Putri yang memerankan Martha juga turut lega dan bersyukur bahwa film ini sudah dirilis setelah menunggu penundaan tayang lantaran pandemi Covid-19.

Dikatakan Adela, film ini menjadi tantangan untuknya yang harus syuting saat tengah malam. Namun, hal tersebut yang membuat rasa antusias Adela begitu tinggi hingga proses penggarapan film ini selesai.

"Mungkin karena sebagian besar settingnya ini ingin menunjukkan Medan ketika di malam hari, jadi rata-rata kita syuting di atas jam 12 malam sampai selesai. Jadi mungkin disitu ada beberapa hal yang menegangkan tapi juga cukup menarik karena di siang hari kita tidak bisa merasakan langsung tapi di malam hari, Medan menunjukkan pesonanya Dan itu sangat berbeda," ucap Adela.

Sempat vakum karena pandemi? Baca selanjutnya...



Simak Video "Sejarah! Sudah 8 Film Indonesia Raih 2 Juta Penonton Tahun Ini"
[Gambas:Video 20detik]