Profil Prof Dedi, Dokter Forensik Unri yang Ikut Autopsi Brigadir J

Profil Prof Dedi, Dokter Forensik Unri yang Ikut Autopsi Brigadir J

Raja Adil Siregar - detikSumut
Jumat, 29 Jul 2022 08:41 WIB
Prof Dedi Afandi, dokter forensik Unri.
Prof Dedi Afandi, dokter forensik Unri. (Foto: Istirmewa)
Pekanbaru -

Jasad Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J diautopsi ulang di RSUD Sungai Bahar, Muaro Jambi, Rabu (27/7) lalu. Ada delapan dokter yang terlibat dalam autopsi ulang.

Dari delapan dokter itu, satu di antaranya merupakan Guru Besar Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Riau, yakni Prof. Dr. dr. Dedi Afandi, DFM., SpFM(K), MM.

Dalam catatan yang diterima detikSumut, pria yang akrab disapa Prof Dedi tersebut baru menyelesaikan tugas sebagai Dekan Fakultas Kedokteran dua periode di akhir November 2021 lalu. Penggantinya yakni dr. Arfianti, M.Biomed, M.Sc., PhD.


Dedi adalah dokter forensik pertama di Bumi Lancang Kuning. Tentu saja, kiprahnya tak perlu diragukan lagi setelah 17 tahun berkecimpung sebagai dokter forensik.

Pria kelahiran Jambi 46 tahun silam itu tercatat sudah lebih 500 kali mengusut kasus yang membutuhkan ilmu forensik. Tangan dinginnya sangat membantu aparat mengungkap misteri kematian seseorang.

"Kemarin dari Bareskrim mengirim surat ke Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI). Lalu dibentuklah tim penasehat ada tiga orang dan pelaksana lima orang," kata Dedi saat berbincang dengan detikSumut, Jumat (29/7/2022).

Setelah menerima surat, PDFI menggelar rapat dan membentuk 'tim delapan'. Tim delapan terdiri dari dokter-dokter forensik yang telah malang melintang menangani berbagai kasus.

Dedi yang aktif sebagai dosen dan dokter forensik di RS Bhayangkara Polda Riau masuk dalam daftar. Namanya terdaftar sebagai penasehat bersama 2 guru besar lain, yakni Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SpFM(K), SH, MSi, DFM (Guru Besar FK UI) dan Prof. Dr. dr. Ahmad Yudianto,SpFM(K), SH, M.Kes (Guru Besar FK Universitas Airlangga).

Sementara untuk pelaksana autopsi ada Dr. dr. Ade Firmansyah Sugiharta, SpFM(K) selaku Ketua Umum PDFI, Dr. dr. Rika Susanti, SpFM(K) dosen dari Universitas Andalas dan dr. Sofiana, SpFM dari RSPAD Gatot Soebroto. Selanjutnya ada dr. Yudy, SpFM - RSCM dan dr. Ida Bagus Putu Alit, DFM, SpFM(K) dari FK Udayana.

"Kamis malam kami terima surat, langsung dibuat tim. Ya saya salah satu yang masuk dalam tim delapan ini, saya penasehat dan ada dua teman lainnya," kata Dedi.

Sebagai penerima Satyalancana Karya Satya X dari Presiden Tahun 2017 lalu itu juga pernah ikut mengungkap berbagai kasus menonjol di Riau. Di antaranya yakni kasus mutilasi anak dan pembunuhan dokter cantik asal Palembang tahun 2009 lalu.

"Saya pernah ikut menangani kasus di Riau itu ada mutilasi anak sampai pembunuhan dokter cantik dari Palembang. Mayatnya ketemu di RSUD Selasih, Pelalawan," kata Dedi.

Atas dedikasinya, Dedi kemudian diganjar banyak penghargaan. Penghargaan mulai dari dosen berprestasi, Wing Kehormatan Kepolisian hingga mendapat penghargaan dari Kapolda Riau pada 2015 dan 2017.

"Kalau korban mungkin ada 10 ribuan, tapi kalau korban mati ada 500-an (ditangani). Kalau sekarang memang fokus saya ke RS Bhayangkara, mengajar dan diminta untuk bantu di beberapa rumah sakit," kata Dedi.

Terkait kasus Brigadir J, Dedi memastikan tim akan bekerja maksimal. Namun saat ini tim penasehat masih menunggu tim yang bekerja di lapangan untuk selanjutnya nanti diteliti.

Riwayat Pendidikan Dedi Afandi:

  • Dokter (dr), Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, tamat tahun 2001.
  • Post Graduate Diploma in Forensic Medicine (DFM), Groningen State University, tamat tahun 2004.
  • Spesialis Forensik dan Studi Medikolegal (SpFM), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tamat tahun 2005.
  • Doktor Ilmu Kedokteran (Dr), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tamat tahun 2010.
  • Konsultan Bidang Etik Medikolegal Sp.FM(K), Kolegium Ilmu Kedokteran Forensik Indonesia, 2017.


Simak Video "Dokter Forensik Polri Siap Hadiri Undangan Komnas HAM "
[Gambas:Video 20detik]
(ras/dpw)